Mengenal Exponential Leader, Tipe Pemimpin yang Dibutuhkan Saat Ini

Pelangi Karismakristi    •    Kamis, 26 Apr 2018 18:02 WIB
karier
Mengenal Exponential Leader, Tipe Pemimpin yang Dibutuhkan Saat Ini
Perusahaan membutuhkan pempinan model baru, yakni exponential leader. (Dok. Kubik)

Jakarta: Pada era digital sekarang ini, kamera analog mulai ditinggalkan. Sebagian besar orang beralih pada penggunaan kamera digital yang lebih mudah dioperasikan. 

Kamera digital pertama kali ditemukan oleh salah satu karyawan Kodak yakni Steven Sasson. Saat Sasson mempresentasikan temuannya, para petinggi perusahaan fotografi global itu justru menolaknya. Alasannya, teknologi cetak telah hidup bersama Kodak selama lebih dari 100 tahun. Tak ada siapa pun yang mengeluhkannya, bahkan biaya cetaknya pun murah.

Beberapa tahun kemudian, yaitu pada 2012, Kodak dinyatakan bangkrut. Kodak yang semula merajai dunia fotografi segera digantikan dengan teknologi digital dan dikuasai Nikon dan Canon. Ini sungguh ironis. Kodak yang menemukan kamera digital, namun justru gulung tikar akibat tergerus kemajuan teknologi.

Mengapa Kodak bisa dilanda pailit? CEO Kubik Leadership Jamil Azzaini menduga salah satu penyebabnya akibat kesombongan para pemimpin Kodak. Mereka terlalu bangga dengan pencapaiannya dan enggan melakukan perubahan.

"Mereka kurang mengapresiasi temuan anggota timnya. Mereka kurang menyadari bahwa perubahan terjadi semakin cepat, bahkan cenderung eksponensial," terang Jamil dalam keterangan tertulisnya.

Apalagi di era yang berubah begitu cepat dan tak bisa diprediksi seperti sekarang, ditambah lagi timbulnya volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity (VUCA). Menghadapi hal ini, perusahaan membutuhkan pempinan model baru, yakni exponential leader.

"Artinya seorang pemimpin yang mampu membawa tim yang dipimpinnya melakukan lompatan perubahaan di pekerjaannya. Tanpa lompatan, bersiaplah perusahaan atau tim yang Anda pimpin akan menjadi kenangan menyedihkan dan terlindas zaman," paparnya.

Namun Jamil menekankan bahwa lompatan tidak harus dengan sesuatu yang besar. Melainkan bisa berupa sesuatu sederhana tapi berdampak besar. 

"Saya pernah berdiskusi dengan seorang pimpinan suatu perusahaan. Dia bertanya kepada saya, meski timnya sudah diimingi bonus dan komisi besar, mengapa prestasinya stagnan? Setelah itu dia putuskan untuk mengubah cara memotivasinya. Bukan dengan iming-iming bonus, tapi menekankan value dari sesuatu yang dijualnya dan memberikan energi sepenuhnya untuk timnya," kata Jamil menambahkan.

Metode itu  berhasil. Penjualan mulai mengalami peningkatan dalam kurun waktu beberapa bulan. Padahal pada saat yang sama, penjualan produk serupa sedang mengalami penurunan. Pemimpin yang demikian, sambung Jamil, bisa dikatakan sebagai exponential leader, karena dia melakukan lompatan berbarengan adanya dukungan penuh dari timnya.

Jamil menekankan sekali lagi, pemimpin model exponential leader sangat diperlukan zaman sekarang. Bila Anda seorang pimpinan dan ingin mengetahui lebih dalam prinsip ini, bisa mengikuti seminar bertajuk Exponential Leader, Lead to Create the Future by Transforming People. 

Seminar tersebut akan berlangsung pada 2 Mei 2018 di Aston Priority, Simatupang, Jakarta. Selain akan dihadiri Jamil Azzaini, ada juga Indrawan Nugroho, seorang Business Innovation Consultant yang akan menjelaskan bagaimana konsep kepemimpinan ini. Dapatkan mendapatkan informasi selengkapnya di sini.


(ROS)