Pengalaman Melewati Quarter Life Crisis Para Influencer Indonesia

Raka Lestari    •    Jumat, 26 Oct 2018 11:17 WIB
jakarta fashion week
Pengalaman Melewati Quarter Life Crisis Para Influencer Indonesia
Jakarta Fashion Week 2019 mengadakan talkshow "1/4 Cerita Generasi 90-an". (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Jakarta: Quarter life crisis yang lebih dikenal dengan krisis seperempat abad dianggap sebagai salah satu masa-masa "krisis" dalam hidup seseorang, baik itu dari segi emosional, fisik, maupun ekonomi.

Quarter life crisis ini biasanya terjadi pada usia 20-an sampai dan puncaknya adalah pada usia 25 tahun. Meskipun memang, setiap individu mengalami masa-masa quarter life crisis pada waktu yang berbeda-beda.

Pada acara talkshow "1/4 Cerita Generasi 90-an" yang diadakan oleh Jakarta Fashion Week 2019 pada hari Kamis, 25 Oktober 2018 menghadirkan beberapa Chira Subyakto, sebagai salah satu desainer terkenal Indonesia.

Ia pun menceritakan pengalamannya ketika mengalami quarter life crisis tersebut. "Jadi waktu umur saya sekitar 25 atau 26, orang tua saya meninggal. Pertama ibu saya meninggal, kemudian bapak saya menyusul beberapa lama kemudian. Di situ saya merasa drop banget," ujar Chitra.

"Sebenarnya istilah quarter life crisis itu belum booming ya pada saat itu, tapi saya sadar banget kalau itu bisa dibilang titik nol dalam hidup saya," ujar Chitra.

(Baca juga: Apakah Mungkin Bisa Merasa Senang dan Sedih pada Waktu Bersamaan?)


(Pada acara talkshow "1/4 Cerita Generasi 90-an" yang diadakan oleh Jakarta Fashion Week 2019 pada hari Kamis, 25 Oktober 2018 menghadirkan beberapa Chira Subyakto, sebagai salah satu desainer terkenal Indonesia. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

"Tapi pada saat itu akhirnya saya ngomong sama diri sendiri. Boleh sedih, tapi harus dikasih deadline. Misalnya, sebulan, setahun, atau berapapun, habis itu kita harus bangun lagi karena kan tidak ada yang bisa kita lakukan selama kita tidak berusaha dan percaya."

Bagi Chitra sendiri, pada saat mengalami quarter life crisis tersebut dirinya melakukan perubahan dengan lebih mencintai diri sendiri.

"Saya mulai dari cinta terhadap diri sendiri, sesimpel dengan melakukan olahraga, meditasi, self healing, dan lainnya. Kita harus menerima diri kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya."

Selain Chitra, hadir juga Marchella FP, penulis buku Generasi 90-an. Ia menceritakan bagaimana dirinya juga mengalami quarter life crisis di usia 20-an.

"Kalau aku pernah juga mengalami quarter life crisis pas mau lulus kuliah. Bingung lulus kuliah mau jadi apa karena kebetulan IPK aku juga enggak terlalu bagus."

"Salah satu penyebabnya mungkin karena aku dulu sering denial, aku selalu denial kalau aku lagi sedih atau marah itu memendam dan jadinya malah bertambah besar."

"Kala aku pribadi, sekarang merasa sedih atau marah itu tidak masalah yang penting mediumnya ke mana. Akhirnya energi negatif itu aku alihkan ke karya atau tulisan biar tidak depresi dan tidak mengeluarkan ke arah yang negatif."




(TIN)