Cara Mendidik Anak agar Optimis

Dhaifurrakhman Abas    •    Rabu, 21 Nov 2018 07:38 WIB
perkembangan anak
Cara Mendidik Anak agar Optimis
Berikut ada beberapa tips yang bisa anda ikuti untuk mengajari anak memiliki sifat optimis. (Foto: Edward Cisneros/Unsplash.com)

Jakarta: Setiap orang tua pasti ingin buah hatinya memiliki sifat optimis yang tinggi bukan? Apalagi optimis berdampak baik pada kesehatan mental dan fisik jangka panjang anak. 

Beberapa penelitian bahkan mengungkapkan orang dengan rasa optimis yang tinggi memiliki kemungkinan hidup sampai usia 100 tahun. Meski begitu membangun rasa optimis juga tergantung pada cara Anda berperilaku pada anak. 

Seperti kata pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Begitupun sifat sang buah hati, tak akan berbeda jauh dari sifat orang tuanya.

Nah, melansir parents berikut ada beberapa tips yang bisa Anda ikuti untuk mengajari anak memiliki sifat optimis.

1. Berhentilah mengeluh 
Semakin sering Anda mengeluh tentang masalah uang atau hari yang berat di tempat kerja, semakin besar kemungkinan anak-anak Anda akan belajar untuk melakukan hal yang sama. Seperti kata pepatah di atas.
 
Untuk itu, cobalah berbicara tentang hal-hal yang benar dan baik buat didengar buah hati. Misalnya, ceritakan pada anak mengenai proyek besar yang anda kerjakan di tempat kerja hari ini. 
 
Pembicaraan pada hal yang positif berdampak baik pada anak. Ini akan mengajarkan anak selalu berharap mendapatkan hal baik tiap kali menjalankan hari.
 
2. Memiliki harapan yang tinggi 
Tak ada salahnya membuat daftar pekerjaan rumah untuk anak Anda. Misalnya, mengingatkan mereka untuk membuat daftar merapikan tempat tidur, merapikan pakaian, menyikat gigi, dan merapikan kamar mereka. 
 
Selain mengurangi beban orang tua, anak-anak juga mendapat manfaat dari rutinitas itu. Mandiri dan kerja keras merupakan beberapa manfaat yang didapatkan anak.
 
“Anak-anak tidak akan mengembangkan sikap “dapat-melakukan” yang optimis. Mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan nilai mereka. Mempercayakan anak-anak untuk menyelesaikan tugas membuat mereka merasa mampu," kata Tamar Chansky, Ph.D., seorang psikolog anak dan penulis.


(Membangun rasa optimis juga tergantung pada cara Anda berperilaku pada anak. Foto: Xavier Mouton Photographie/Unsplash.com)

(Baca juga: Manfaat Sikap Optimis Bagi Kesehatan)

3. Mendorong pengambilan risiko yang masuk akal 
Orang tua mana yang ingin anaknya terluka? Tentu tidak ada. Tetapi sikap over protective ternyata tidak selalu baik. 
 
Apalagi sampai melarang anak beraktivitas untuk menghindari kecelakaan. Hal ini dapat mengecilkan hati anak. 
 
Sikap over protective juga memungkinkan anak tidak sepandai anak-anak lain dalam membangun kepercayaan dirinya. Bahkan bisa menyebabkan rasa pesimistis pada anak.
 
“Anda hanya harus mulai melepaskan kendali. Biarkan anak TK Anda bermain sendiri di halaman belakang atau pergi dalam perjalanan ke lapangan sekolah yang terdekat tanpa Anda sebagai pendamping. Tentu Anda tidak ingin anak Anda takut untuk mencoba hal-hal baru,” kata penasihat orang tua dan penulis, Michael Thompson, Ph.D.,
 
4. Tunggu sebelum bereaksi 
Anak kecil rentan saling ejek hingga berakhir perundungan. Meski demikian jangan langsung bertindak ketika Anda mendapati buah hati tengah diejek oleh teman-temannya. 
 
Biarkan ia membela dirinya sendiri. Kemudian bantu ia menasehati teman-temannya bahwa mengejek tidak baik dalam pertemanan.
 
"Biarkan anak Anda mencoba menyelesaikan berbagai hal tanpa bantuan Anda, akan meningkatkan rasa pencapaiannya. Ini juga membuatnya lebih optimis tentang apa yang dapat ia lakukan di masa depan," kata psikolog anak Reivich.

5. Berjuang
Mungkin Anda pernah melihat anak putus asa ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti “Saya buruk dalam matematika!” atau “Saya tidak pintar bermain bola!".

Untuk mencegah anak pada kesimpulan tersebut, cobalah mengubah perspektifnya. Buat program pelatihan untuk membantu kekuatan anak melalui tantangan menjadi lebih positif.

“Bantu dia menyebutkan keterampilan lain yang dia kuasai. Misalnya membaca. Lalu ingatkan, berapa banyak usaha yang dilakukan sampai dia bisa membaca? Bangun optimis bahwa anak Anda pasti akan mendapatkan hal ini juga pada pelajaran yang menurutnya tidak ia kuasai," kata seorang psikolog Andrew Shatté, Ph.D.




(TIN)