Dampak Buruk Kecanduan Gim pada Anak

Raka Lestari    •    Kamis, 21 Jun 2018 16:12 WIB
perkembangan anakgangguan mental
Dampak Buruk Kecanduan Gim pada Anak
Pada kondisi yang sudah parah, kecanduan gim bisa berdampak tidak hanya pada sisi emosional namun juga pada sosial anak-anak. (Foto: Frankie Valentine/Unsplash.com)

Jakarta: Berbagai macam permainan yang ada saat ini sudah sangat banyak jenis dan semakin banyak pula platform yang menyediakannya. Berbagai macam platform mulai dari laptop, komputer, bahkan smartphone yang digunakan sehari-hari juga bisa menjadi akses utama terhadap berbagai jenis gim. 

Meskipun gim bukanlah sesuatu yang negatif, namun jika memainkannya terlalu lama bisa berdampak pada kesehatan. Bahkan baru-baru ini, World Health Organization (WHO) telah resmi menetapkan kecanduan gim sebagai gangguan mental. 

Pada kondisi yang sudah parah, kecanduan gim bisa berdampak tidak hanya pada sisi emosional namun juga pada sosial anak-anak.

"Jadi misalnya waktunya harusnya digunakan untuk hal-hal lainnya, itu kebanyakan digunakan untuk bermain. Kemudian dari sisi prioritasnya, yang harusnya mengerjakan A dia hanya mengerjakan gim dan ini jadi sulit karena konsentrasinya ke sana," ujar Kasandra Putranto, seorang psikolog klinis.

"Lalu kemudian perubahan perilaku itu, emosi dan sosial, seperti tidak mau main, tidak mau ketemu orang, kalau ketemu sama orang jadi marah-marah, dilarang main gim juga akhirnya menjadi emosional. Lalu kemudian sekolahnya terganggu. Biasanya yang juga sering terjadi itu karena mereka main gim online, akhirnya tidurnya itu sampai jam 2 atau 3 pagi kemudian pagi tidak bisa bangun pagi, sehingga siklus hidupnya pun jadi bergeser," ujar Kasandra. 

(Baca juga: Kenali Pertanda Gangguan Gim)

Kasandra sendiri menyetujui bahwa game disorder dianggap sebagai gangguan mental. "Kalau kita bicara tentang gangguan mental terutama juga gangguan perilaku adalah ketika sudah ada penyimpangan."


(Meskipun gim bukanlah sesuatu yang negatif, namun jika memainkannya terlalu lama bisa berdampak pada kesehatan. Bahkan baru-baru ini, World Health Organization (WHO) telah resmi menetapkan kecanduan gim sebagai gangguan mental. Foto: Glenn Carstens-Peters/Unsplash.com)

"Penyimpangan dari yang seharusnya, dari kondisi ideal, dari kondisi normatif, yang jelas dengan adanya indikasi dari adiksi gim tersebut sudah memenuhi kriteria penyimpangan terhadap kondisi ideal dan kondisi normatif tersebut sehingga saya setuju kami secara umumnya setuju bahwa adiksi gim ini dianggap sebagai gangguan."

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan, "Atensi semua pihak untuk menyelesaikan masalah gim ini memang relatif rendah sebenarnya, padahal negara-negara lain misalnya Kore Selatan telah memiliki kebijakan membatasi waktu dalam bermain gim." 

"Ada banyak hal mengapa kemudian atensi semua pihak terkait gim itu masih rendah, satu terkait komitmen. Yang kedua karena terkadang masih memprioritaskan hal lain padahal ini menyangkut masa depan anak, dan yang ketiga kadang-kadang memang tekanan penyelenggara gim itu juga luar biasa."

"Tahun 2015-2016 KPAI bersama Kemendikbud memang concern untuk melarang gim yang bermuatan negatif saat itu. Tapi tampaknya KPAI mendapatkan perlawanan luar biasa, web KPAI dihack saat itu bahkan kita juga melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri saat itu dan alhamdulillah web kami saat itu bisa kembali," ucap Susanto.

"Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa karena pengusaha gim mendapatkan keuntungan yang luar biasa sehingga setiap orang yang ingin membatasi apalagi negara ingin membatasi terhadap gim itu kadang-kadang ya kita mendapatkan perlawanan," ujar Susanto. 





(TIN)