Jangan Mengomel jika Anak Susah Makan

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 03 Sep 2016 07:11 WIB
keluarga
Jangan Mengomel jika Anak Susah Makan
Jangan Mengomel jika Anak Susah Makan (Foto: gettyimages)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setiap orangtua memiliki cara tersendiri untuk memberi makan anak. Namun ternyata, tak semua cara tersebut tepat.

Ada beberapa cara yang paling sering dilakukan orangtua di Indonesia untuk memasukkan nutrisi pada anak, baik secara paksa dan tidak. Apa sajakah itu?

Orangtua kerap tak sabar melihat anaknya makan dengan lambat. Biasanya mereka akan bergegas menyuapi anak. Bila dilakukan sekali atau dua kali, itu adalah hal wajar. 

Namun, perlakuan tersebut dalam jangka panjang tentu akan memberi efek, seperti anak menjadi manja dan malas makan sendiri. Memberi makan anak sambil mengajaknya jalan-jalan atau bermain juga stategi yang tak asing dilakukan.

"Anak-anak yang dibiarkan bermain menjadi tak sadar kalau mereka sedang makan, apalagi mainan sekarang biasanya gadget. Itu juga berarti mereka tak menikmati proses makan, namun kegiatan lain," terang psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, S.Pisi, M.Psi dalam konfrensi pers PAUD Healthy Eating Habit Program oleh Sarihusada di Jakarta.

Selain itu, orangtua saat ini tak memperhatikan jenis makanan apa yang masuk ke dalam mulut anak, asalkan perut anak tetap terisi dan mereka melihat anak makan.

"Hati-hati buat orangtua yang memperbolehkan semua benda masuk ke mulut anak. Bisa jadi mereka akan memakan benda-benda seperti pasir, semen, odol atau benda lain yang asal dimasukkan ke mulut yang biasa disebut pica," tambahnya.

Salah satu kebiasaan lain adalah anak makan sambil menonton TV. Hal ini membuat anak tak menyadari apakah ia masih lapar atau sudah kenyang dan seberapa banyak makanan yang telah masuk ke mulut.

"Ini dapat menyebabkan anak menjadi obesitas karena tak sadar berapa banyak yang masuk ke mulut," katanya. 

Anna memberikan trik untuk mendidik anak supaya mau makan. Salah satunya dengan bentuk apresiasi.

"Cobalah tidak mengomeli anak, namun mengapresiasi bila dia berbuat baik. Dengan demikian anak akan senang," katanya. 

Selain itu, anak juga biasanya akan terpacu untuk melakukan hal yang baik agar lebih dihargai. Dengan demikian, anak akan termotivasi, entah dari orang lain maupun diri sendiri.

"Ini bisa diaplikasikan di sekolah di mana guru biasanya akan mengapresiasi anak yang duduk tenang dan anak yang lain biasanya juga akan melakukan hal serupa agar dihargai," ungkapnya memberi contoh.

Apresiasi akan lebih disenangi oleh anak dibandingkan dengan luapan verbal dari orangtua (omelan). Apalagi ditambah dengan membandingkan anak dengan saudaranya yang lain.

"Hindari membandingkan anak-anak di depan mereka, atau mereka akan semakin menjadi parah," katanya.


(ELG)