Jangan Ragu Mengajarkan Anak Keterampilan untuk Menolak

   •    Jumat, 15 Sep 2017 12:56 WIB
pendidikan anak
Jangan Ragu Mengajarkan Anak Keterampilan untuk Menolak
Ilustrasi. (Foto: MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Baru-baru ini publik dikejutkan dengan puluhan remaja yang mengalami gangguan mental usai mengonsumsi obat yang mengandung karisoprodol. Usut punya usut, obat yang biasa digunakan untuk melemaskan otot ini bisa menimbulkan halusinasi dan ketergantungan pada pemakainya.

Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anak zaman sekarang. Apalagi, dengan perkembangan teknologi membuat orang tua harus semakin protektif terhadap putra-putrinya.

Psikolog Novita Tandria, sudah saatnya bagi para orang tua untuk terus menjalin komunikasi yang erat dengan anak. Bahkan yang paling penting, anak-anak harus diajarkan keterampilan untuk menolak terhadap sesuatu yang dianggap tak wajar dan bisa menimbulkan hal-hal negatif.

"Jadi refusal skills ini harus diajarkan kepada anak sejak dini. Bahwa kamu harus mampu berkata tidak untuk menolak orang yang berusaha masuk ke kamu dan tidak kamu kenal. Paling tidak, komunikasikan ke orang tua," ujar Novita, dalam Selamat Pagi Indonesia, Jumat 15 September 2017.

Menurut Novita, melarang anak hanya dengan ucapan atau larangan yang keras untuk menjauhi narkoba, misalnya, tidak akan membuat anak menyerah. Justru, semakin dilarang, anak akan terus mencoba untuk merasakannya. Yang perlu dilakukan oleh orang tua, kata Novita, menunjukkan contohnya secara nyata kepada anak.

Novita mencontohkan, pernah sekali dia membawa putra-putrinya ke pusat rehabilitasi narkoba untuk menunjukkan sejauh apa efek narkoba terhadap seseorang. Setelah diketahui, anak akan mengerti bahwa narkoba memang sangat berbahaya.

"Tapi kalau berencana melakukan hal seperti ini, pastikan bahwa anak siap menerimanya. Jangan sampai justru menimbulkan ketakutan dan trauma. Sesuaikan dengan kemampuan anak," katanya.

Menurut Novita, anak-anak yang tidak memiliki kemampuan untuk menolak akan menganggap segala sesuatu sebagai kebeneran. Kekurangan orang tua dalam hal pengasuhan saat ini adalah kurang terlibat dalam tumbuh kembang anak setiap hari.

Penting bagi orang tua untuk menyempatkan quality time jika tidak punya quantity time. Dua jam saja, kata Novita, cukup untuk berbicara dengan anak. Ketika ada perubahan pasti akan terlihat.

"Buat saya menjadi orang tua tidak ada sekolahnya tapi dengan kita memberi diri kita seutuhnya, waktu, tenaga, dan energi kita sebagai orang tua, anak akan punya kemampuan untuk menolak hal-hal negatif di sekitarnya," jelas Novita.




(MEL)