Penyebab Utama Pasangan Bertengkar

Anda Nurlaila    •    Kamis, 31 Jan 2019 13:19 WIB
keluarga
Penyebab Utama Pasangan Bertengkar
Jika pasangan wanita mengalami kecemasan atau ketakutan, pria umumnya akan merespons dengan perlindungan/dukungan. (Foto: Matheus Ferrero/Unsplash.com)

Jakarta: Penyebab utama pertengkaran dalam rumah tangga menurut sebuah survei ada lima. Yakni masalah uang, hubungan seks, cara membesarkan anak, orang tua dan mertua serta berbagi pekerjaan rumah tangga.

Namun kenyataannya alasan utama perdebatan adalah suami atau istri merasa pasangan mengabaikan mereka. Cekcok biasanya dipicu rasa sakit akibat putusnya relasi di antara pasangan.

Dilansir dari Psychologytoday, terputusnya interaksi dalam hubungan romantis paling sering terjadi saat ketakutan dan kegelisahan salah satu pasangan menyebabkan ketidakpuasan pada pasangannya.

Pengamatan mekanisme mempertahankan kelangsungan hidup pada hewan sosial menunjukkan bahwa betina merupakan sistem peringatan dini yang otomatis merangsang perilaku perlindungan agresif pada jantan.

Ketika betina mendeteksi bahaya dan takut, para jantan terkuat akan membentuk garis pertahanan untuk melindungi kawanan dari ancaman luar.

(Baca juga: Tips Jaga Keharmonisan Keluarga dari Tya Ariestya


(Dilansir dari Psychologytoday, terputusnya interaksi dalam hubungan romantis paling sering terjadi saat ketakutan dan kegelisahan salah satu pasangan menyebabkan ketidakpuasan pada pasangannya. Foto: Pixabay.com)

Otak manusia lebih terstruktur secara sosial daripada hewan lain. Mekanisme interaktif primitif memiliki bentuk lebih rumit dan tanpa disadari dapat merusak hubungan.

Jika pasangan wanita mengalami kecemasan atau ketakutan, pria umumnya akan merespons dengan perlindungan/dukungan.

Tetapi jika pria tidak tahu bagaimana melindungi atau merasa gagal melindungi, sikap agresif akan berubah menjadi kritik, mengambil kendali dan kemarahan. Atau justru sebaliknya dengan menarik diri dan diam.

Secara umum, seorang pria cenderung menghalang-halangi, bersikap kritis, defensif, atau menghina jika ia mengalami atau menghindari perasaan gagal atau tidak mampu sebagai penyedia, pelindung, atau kekasih.

Sementara wanita cenderung kritis, defensif, atau menghina jika dia mengalami atau diingatkan ketakutan mereka akan bahaya, isolasi, atau kekurangan.

Jika pasangan tidak memahami dinamika interaktif bawah sadar ini, mereka akan berpikir tengah mengalami masalah komunikasi.

Selanjutnya akan mendorong kecemasan dan rasa malu untuk memulai interaksi kembali. Masing-masing akan berpikir bahwa pasangan bersikap buruk, tidak peka atau egois. Akhirnya hubungan berakhir tanpa memahami ada mekanisme emosi primitif yang merusak hubungan.

Interaksi rasa takut dan malu bukan hanya terjadi pada salah satu pasangan, namun keduanya. Jika pasangan berhenti saling menyalahkan, mereka dapat mengakhiri dinamika pre-verbal yang merugikan ini.

Untuk mengatasinya, pasangan harus ingat bahwa mereka peduli satu sama lain meskipun ada perbedaan pendapat.




(TIN)