Jokowi dan Kosmetik Wardah Ternyata Punya Kesamaan

Fitra Iskandar    •    Kamis, 24 Aug 2017 14:49 WIB
iklan
Jokowi dan Kosmetik Wardah Ternyata Punya Kesamaan
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo melambaikan tangan saat upacara penurunan bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-72 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta:  Pertanyaan ini untuk Anda kaum perempuan: Sosok perempuan seperti apa yang menurut Anda aspirasional? Super model, dengan fierce pose? Atau wanita ‘biasa saja’ yang tersenyum ramah.

Untuk menjawabnya, Anda bisa bayangkan tengah melihat dua gambar di sebuah majalah. Satu sosok perempuan bule dengan ekspresi yang agak-agak sinis dan pakaian agak-agak minimalis. Kedua, perempuan berhijab dengan pakaian modis tapi sopan dan senyumnya bersahabat.

Kalau jawaban yang kedua anda pilih, Anda berarti seperti perempuan Indonesia pada umumnya. Kesimpulan ini juga 11-12 dengan hasil survei yang dilakukan Young & Rubicam (Y&R) Advertising, perusahaan komunikasi pemasaran global.

Perusahaan tersebut kemarin merilis top Break-out Brands di Indonesia 2017 dalam 11 kategori. Di kategori
kecantikan, Wardah tampil sebagai brand yang paling kuat. Kenapa brandnya bisa  menonjol dibanding brand lain di kategori yang sama?
 
Indikasi yang ditemukan Y&R menunjukkan bahwa bagi perempuan Indonesia, wanita aspirasional bukan  seperti yang digambarkan brand negeri bule sana, yang super model, dan pasang tampang angkuh. 
“Di Indonesia, yang dianggap aspirasional bisa jadi sosok cewek baik-baik di sisi lain tetap berakarakter,” kata Ian A Prasetyo, SR Regional analyst & brand strategist Y&R, kepada Metrotvnews.com, Rabu (23/8/2017). 

Alasannya, sederhana.  Karena Indonesia mayoritas muslim, sosok cewek yang disukai itu  yang punya paduan akhlak baik, dan juga karakter.

Kata Ian, ada 3 atribut yang menjadi drivers of Relevance di kategori Beauty di Indonesia, tahun 2017.  Memiliki kepopuleran (gaining popularity), memiliki jiwa bersahabat (friendly) dan menunjukkan karakter berani (daring).  Gambaran sosok perempuan yang punya tiga atribut itu, adalah ‘The It Girl’, nya perempuan Indonesia. Itu!

‘It’ yang dimaksud tentu bukan kependekannya Information Technology.  Istilah slang ini muncul pada 1920-an,  yang menunjuk pada sesosok perempuan cantik, muda dan gaya. Novelis Inggris Elinor Gyn mempopulerkannya dengan kutipannya yang masyur. “With It, you win all men if you are a woman and all women if you are a man. “ It” bisa jadi kualitas kepribadian dan daya tarik fisik.

 Y&R menggunakan Brand Asset Valuator (BAV), metrik untuk mengukur nilai sebuah brand.  Mereka coba meneropong  apa yang bisa mendorong kekuatan sebuah brand  di Indonesia tahun ini, 2017. Yang keluar dari hasil analisis ada delapan atribut, yang, meski tidak selalu muncul semua, melekat pada sebuah brand yang kuat.

Distinctive, innovative, down to earth, best brand, unique, fun, progresif,  dynamic.  Delapan atribut ini bila dihidupkan sebagai seseorang atau sosok, cocok dengan figur Presiden Jokowi.  Kesimpulannya, bila dikaitkan dengan brand,  bisa jadi ada indikasi bahwa yang dicari orang Indonesia bukan brand yang mengunggul-unggulkan diri, merasa paling nomor satu yang tampil kuat, tetapi justru brand yang bisa menyampaikan pesan sebagai brand yang progresif, dinamis, tapi juga membumi (down to earth).

Wardah dan Jokowi memiliki dua atribut  yang sama. “Best brand dan unique,” kata Ian. “Brand yang bisa diakses masyarakat,” tambah Ian.


SR Regional analyst & brand strategist Y&R, Ian A Prasetyo

Break-Out Brands

Minggu ini Y&R Group Indonesia merilis top Break-out Brands Indonesia dalam 11 kategori, seperti yang sudah diidentifikasikan oleh BAV. Ketika beberapa brand ekonomi baru masuk ke dalam daftar, brand lokal masih menjadi yang terkuat diantara pendatang baru lainnya di Indonesia.
 
Brand diurutkan berdasarkan peringkat yang paling ‘mendobrak’ dalam kategori produk terdiri dari: AQUA, Samsung, McDonald’s, Path, Go-Jek, Alfamart & Indomart, Wardah, Beng-Beng, ABC Heinz, dan Chitato. Kategorisasi ini berdasarkan pada data komparatif BAV Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, dan dengan mengukur persepsi brand sesuai dengan berbagai atribut dan karakteristik utama mereka.


Kepala Perencanaan Y&R Indonesia, Upasana Dua
 
Menanggapi penelitian tersebut, Kepala Perencanaan Y&R Indonesia, Upasana Dua, mengatakan "Menarik untuk melihat bahwa 'Break-out Brands' ternyata bukan brand-brand baru di pasar saat ini. Ketika brand dengan konsep ekonomi berbagi seperti Go-Jek masuk ke dalam daftar, sangatlah menarik untuk melihat bahwa brand Indonesia yang lebih mapan masuk ke peringkat yang tinggi, menciptakan kategori baru dengan berinovasi pada cara penawaran dan komunikasi, membuat mereka tetap relevan di era saat ini.


 Matthew Collier, CEO, Y&R Group Indonesia.

Brand-brand pendobrak atau ‘Break-out Brands' ini hanyalah salah satu contoh hasil penemuan dari BAV, karena Y&R Indonesia terus membangun strategi dan kapabilitas data," tambah Matthew Collier, CEO, Y&R Group Indonesia.

"BAV adalah cara khusus yang digunakan untuk memetakan persepsi brand dibandingkan dengan brand yang setara lainnya, menawarkan wawasan yang tak ternilai harganya untuk klien yang sudah bersama kami, klien baru, sekaligus memberikan keuntungan kompetitif yang besar untuk Y&R sebagai agency terintegrasi yang memimpin di industri."
 
Sejak diluncurkan pada tahun 1993, BAV telah menjadi database dan representasi dari persepsi brand terbesar di dunia. BAV mengevaluasi kondisi dan posisi brand di pasaran, membandingkan asetnya dalam kancah persaingan di industri dan menjelajahi berbagai dinamika kategori dalam konteks "brandscape" yang lebih luas dari ribuan brand yang ada.


(FIT)