Cerita dan Alasan di Balik Kokohnya Sosok Seorang Ibu

Yatin Suleha    •    Jumat, 22 Dec 2017 20:34 WIB
hari ibu
Cerita dan Alasan di Balik Kokohnya Sosok Seorang Ibu
Mengapa menjadi ibu harus tangguh? Simak penjelasan psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi,Universitas Kristen Maranatha, Bandung. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Hari ini, 22 Desember 2017 adalah Hari Ibu. Beragam cerita kerepotan ibu memang menjadi salah satu hal yang mewarnai perjalanan dan perkembangan seorang ibu. Dalam banyak gambar atau cerita di banyak media sosial terkadang hanya hal bagus atau indah saja yang terlihat, namun cerita di balik itu tak banyak yang mengetahuinya.

Salah satunya adalah Febie Samatha Sakapurnama, seorang pengusaha tas diapers bag bertajuk "Cocopop Crafts", sekaligus juga memiliki Cocopop Reading Corner mobile library, serta penggiat komunitas.

Dalam sebuah akun media sosialnya ia mengungkapkan kenangan yang pernah ia lalui dalam suka duka dan perjuangan menjadi ibu.

"This pic was taken around 2006, before #madhyasta was born. Kalau lihat foto ini, jadi ingat salah satu masa yang cukup berat dalam perjalanan saya sebagai ibu," tulisanya mengawali cerita di Hari Ibu ini.

Saat itu kami baru pindah ke Melbourne menemani ayah yang sedang tugas studi. Saya masih belajar untuk mengurus rumah tangga dan anak (dan MASAK! OMG).

Cakra belum genap 3 tahun, sedang mengalami speech delay dan memiliki beberapa masalah adaptasi. Saya sedang hamil besar, bekerja paruh waktu, karena itu saya kemudian memasukkan Cakra ke daycare, keputusan yang kemudian saya sesali karena memunculkan masalah tersendiri.

Saya sempat mengalami PreNatal Depression, depresi yang dialami oleh calon ibu sebelum melahirkan, yang saat itu diakibatkan oleh gabungan hormonal, kondisi fisik yang menurun karena sempat beberapa kali mengalami serangan mag akut, kesepian dan homesick yang cukup parah (saat itu baru saja mulai booming Friendster, dan untuk komunikasi hanya lewat email atau Yahoo Messenger). 

I missed my friends and family a lot. It was emotionally quite rough for me, but eventually, I adapted. And things turn out to be better the following year. 

Ada kenangan yang disesali, ada juga yang membanggakan, tapi yang pasti semua menyenangkan untuk dikenang, karena masa seberat apa pun itu adalah proses belajar dan berkembang saya sebagai seorang Ibu, dan sebagai manusia. 

Every motherhood journey is unique, we can never compare our own life story with anyone else's. 

We all have our own struggles, our own fights, but in the end they all have the same meaning. They taught us life lessons, they define us, and made us who we are now? 


(Febie dan keluarga. Foto: Dok. Febie Samatha Sakapurnama)


Selamat hari Ibu, awesome Moms. Give yourself a pat on the back for all the struggles, fights and life lessons you've experience so far. Hopefully it will make us stronger to face whatever lies ahead. 

#selamathariibu #hariibu2017 #tumbennulispanjang"


(Baca juga: Presiden: Perempuan Berkomitmen Besar kepada Negara)

Cerita haru biru Febie merupakan satu dari sekian kisah suka duka ibu yang lainnya juga di semua belahan dunia. Lalu, mengutarakan satu pertanyaan di Hari Ibu, "Mengapa menjadi seorang ibu harus tangguh?"

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi,Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa menjadi ibu harus tangguh, "Karena sejak dari dalam kandungan anak hidup bergantung pada ibunya. Proses yang terjadi selama 9 bulan ini membuat ikatan batin antara ibu dan anak menjadi kuat. Sehingga, baik laki-laki ataupun perempuan kerap menjadikan ibunya sebagai figur panutan," tukas Efnie.

"Ibu menjadi figur yang merawat dan melindungi. Ibu menjadi tempat curahan hati. Ibu yang memikirkan hal di rumah sedetil mungkin, dan tidak jarang ibu juga harus bekerja yang membantu ayah."

"Jika dulu dikatakan ibu itu berperan ganda, jika sekarang ibu itu berperan banyak. Karena itu, pada beberapa kejadian meskipun figur ayah menjadi contoh yang buruk atau lingkungan tempat tinggal perilakunya buruk, selama sang ibu menjadi figur yang baik dan mendampingi anak secara maksimal, anak masih bisa berkembang menjadi pribadi yang baik," jelas ibu satu anak ini.

Lalu, apa kunci utama seorang ibu? "Kunci utamanya adalah IBU. Itu yang membuat wanita yang menjadi ibu haruslah tangguh, karena di balik generasi hebat ada sang ibu yang tangguh di belakangnya," tutup psikolog yang ramah ini. 









(TIN)