Kenali Gejala Disleksia pada Anak

   •    Kamis, 26 Oct 2017 12:14 WIB
kesehatan anak
Kenali Gejala Disleksia pada Anak
Ilustrasi. (Foto: Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Disleksia dikenal sebagai gangguan pada anak usia sekolah yang kesulitan mengenal huruf, membaca dan berbahasa. Meski mengalami gangguan dalam berbahasa, anak-anak dengan disleksia umumnya tampak normal seperti anak pada umumnya dengan kecerdasan di atas rata-rata.

"Gampangnya, disleksia itu kondisi dimana ada gangguan dalam berbahasa padahal sebetulnya potensi kecerdasannya baik-baik saja. Bahkan banyak di antara mereka justru cerdas luar biasa," ungkap Dokter Spesialis Anak Kriastiantini Dewi, dalam Metro Plus, Rabu 25 Oktober 2017.

Banyak orang mengenal disleksia dengan gejala anak suka terbalik membaca huruf, seperti D menjadi B, atau M menjadi W. Namun ternyata disleksia pada anak bukan cuma soal kesulitan berbahasa, melainkan ada gangguan lain yang menyertainya.

Misalnya bahasa lisan yang umumnya sudah dikuasai oleh anak sejak usia prasekolah antara usia 3-4 tahun. Atau bahasa sosial dimana seorang anak memahami bahasa tubuh, mimik orang lain, dan tak mampu mengaitkan situasi sosial dalam konteks berbahasa.

"Jadi penyandang disleksia ini yang terganggu bukan hanya bahasa tulisan melainkan juga kemampuan bahasa lisan dan sosial," kata Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia itu.

Selain itu Kristiantini juga menyebut keterampilan excecutive function anak disleksia dengan anak lain berbeda. Misalnya kemampuan planning, organizing, manajemen waktu dan memiliki memori yang terbatas.

Sebagian dari mereka juga kurang terampil dalam koordinasi motorik. Seperti sering jatuh, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya atau saat teman sebaya sudah mampu mengikat tali sepatu dan mengancing baju mereka belum dapat melakukannya.

"Jadi kalau kita lihat dari segmen umur disleksia itu bukan penyakit tetapi sesuatu yang disandang seseorang seumur hidup karena faktor genetik. Disleksia bukan kita minum obat kemudian sembuh, tetapi akan seterusnya demikian," ungkapnya.

Kristiantini mengatakan gejala disleksia sudah bisa dikenali sejak anak memasuki usia prasekolah yang disebut sebagai kelompok risiko disleksia. Gejala bisa diketahui ketika anak tak lancar berbicara meskipun sudah masuk usianya, tetapi untuk melakukan perintah lain mereka tak punya masalah.

Misalnya penyebutan merah menjadi meyah, biru menjadi biu, ayah menjadi haya, atau ibu menjadi ubi.

"Kalau kita enggak sadar kesannya lucu padahal sebetulnya itu sinyal bahwa dia tidak mampu mencari padanan kata yang tepat untuk menyampaikan sesuatu," ujar Kristiantini.

Gejala lain yang bisa menjadi pertanda adalah anak tak mampu menyampaikan poin inti ketika mengutarakan sesuatu. Apa yang mereka coba sampaikan justru berputar-putar dan sulit mencapai inti pembicaraan.

"Misalnya 'aku mau kesini' padahal maksudnya mau kesitu, atau guruku orangnya panjang padahal maksudnya tinggi, bisa juga menyebut kolam itu tebal padahal yang ingin disampaikan kolam itu dalam," jelasnya.




(MEL)