Bagaimana Mengontrol Pasangan yang Suka Mengumbar Amarah di Medsos

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 20 Sep 2016 15:59 WIB
mantan kekasih
Bagaimana Mengontrol Pasangan yang Suka Mengumbar Amarah di Medsos
(Foto: Antara/ Juli)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perhatian pengguna media sosial (medsos) tengah tertuju kepada Marissa Haque dan Feni Rose.Marissa Haque tampak kesal dengan Feni Rose dan acara yang dipandunya di sebuah stasiun televisi.

Marissa merasa dilecehkan karena pada acara tersebut, Feni mengungkit-ungkit kembali kisah asmara suaminya dengan seorang perempuan.


Kata-kata kasar pun tak ayal dilontarkan Marissa pada keterangan foto postingannya di instagram.


 

 

#YaAllahPleaseHelpMyFamily #IkangFawzi #MarissaHaque #IsabellaFawzi #ChikitaFawzi #ChristinePanjaitan #MaringanDLT #TransTV #RumpiTTV #KPI #KomisiPenyiaranIndonesia #AzimahSubagijo ???????? Gila betulan ya si FENI ROSE @fenirose ini, juga @rumpi_ttv dengan ide gila ala media Yahudi oleh IKHSAN Ketua tim Kreatif "sampah" RUMPI Trans TV (Panggilan WhatsApp +62 812-2681-1157)! Saya membayangkan, entah bagaimana kelak penderitaan proses kematian mereka berdua, kita semua akan menjadi saksi hidupnya. Rasa sakit hati ini dalam waktu dekat akan mereka rasakan 700 kali lebih pedih dari apa yang saya rasakan sekarang, tidak mendoakan, tapi alam semesta beserta seluruh isinya akan membalikkan energi negatif ini kepada mereka yang mendzolimi keluargaku @ikangfawzi @isabellafawzi @chikifawzi @marissa_rechts. Amien YRA... Bismillahirrahmanirrohiiiim, la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimiiiin... (Marissa Haque Ikang Fawzi)

A photo posted by marissa haque ikang fawzi (@marissahaque) on






Apa yang dilakukan Marissa mendapat pro dan kontra dari pengguna media sosial. Ada yang menyayangkan sikap Marissa yang terlalu impulsif, ada pula yang mendukungnya.

Bagaimana hal tersebut ditinjau dari sudut pandang psikologis?

"(Apa yang dilakukan Marissa) bisa dikategorikan sebagai kekerasan verbal. Seseorang berperilaku kasar melalui kata-kata," ujar Joice Manurung, psikolog yang kerap menyoroti komunikasi verbal, saat dihubungi Metrotvnews.com, Selasa (20/9/2016).


Ia mangungkapkan, orang yang melakukan kekerasan verbal tak bisa dihentikan oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri, bahkan tidak oleh pasangannya.

(Baca: Ingin Bahagia Lebih Lama? Coba 5 Cara Ini)

Hal ini karena si pelaku tak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kekerasan.

Bagaimana cara menghentikan perilaku tersebut? Ternyata, menasehati bukan cara terbaik.

"Ketika dilarang atau ditegur, biasanya ia akan semakin menjadi-jadi sebagai bentuk defensif atas perbuatannya," ujar perempuan yang praktek di Asian Business Consultant, Kemang Selatan Raya,Jakarta, tersebut.

Cara paling sederhana adalah dengan tidak menghiraukannya. Konfrontasi pun sebaiknya dihindari.

"Orang tipikal ini merasa memiliki kekuatan atas orang yang menjadi obyeknya. Jika ditentang, malah semakin menjadi-jadi," paparnya.

Jika tetap ingin menasehati, kata Joice, sebaiknya memerhatikan beberapa hal seperti pemilihan kata, waktu berbicara, dan siapa yang akan berbicara.

"Sebaiknya hindari menggunakan kata larangan 'jangan,' karena akan membuatnya merasa dipojokkan dan pada akhirnya semakin emosi," saran Joice..





Lihat Video: Rahasia Ikang Fawzi dan Marissa Haque Menikah Selama 30 Tahun


(DEV)