Tren Pernikahan Milenial, Gunakan Teknologi dan Media Sosial Lebih Maksimal

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 30 Oct 2018 13:59 WIB
surveigenerasi milenial
Tren Pernikahan Milenial, Gunakan Teknologi dan Media Sosial Lebih Maksimal
Tren pernikahan generasi milenial ternyata semakin mengarah ke kepraktisan karena teknologi. (Foto: Ivan Cabañas/Unsplash.com)

Jakarta: Tren pernikahan generasi milenial ternyata semakin mengarah ke kepraktisan karena teknologi dengan sentuhan tradisional yang semakin minim. Demikian menurut sebuah survei.

Dealspotr Influencer Marketplace menanyai 500 wanita milenial berusia 25-34 tahun terkait rencana pernikahan mereka. Hasilnya, beberapa partisipan meninggalkan tradisi pernikahan lama dan lebih mengandalkan teknologi.

Sebanyak 25 persen pengantin wanita menciptakan geofilter Snapchat dan 37 persen menggunakan tagar Instagram wedding saat mengunggah foto pernikahan di sosial media Instagram.

Generasi milenial juga menyukai konsep video, di mana mereka ingin setiap momen di pernikahan terekam dengan maksimal.


(Dealspotr Influencer Marketplace menanyai 500 wanita milenial berusia 25-34 tahun terkait rencana pernikahan mereka. Hasilnya, beberapa partisipan meninggalkan tradisi pernikahan lama dan lebih mengandalkan teknologi. Foto: Sweet Ice Cream Photography/Unsplash.com)
 
(Baca juga: Tren yang Mengganggu Pesta Pernikahan Masa Kini)

Dari segi undangan, ternyata setengah dari calon pengantin masih mengandalkan versi cetak. Sementara, sisanya menggunakan undangan virtual supaya lebih praktis.

Tak hanya itu, persiapan pernikahan juga dimulai dari media sosial. Sekitar 25 persen partisipan mengaku menggunakan Instagram untuk mencari vendor pernikahan.

Supaya lebih terlihat bagus di media sosial, atau Instagram-worthy, lokasi pernikahan menjadi faktor terpenting dalam momen bahagia tersebut.

Tren lain yang sekarang terlihat ketinggalan zaman ada registrasi dan souvenir, di mana tak lebih dari setengah calon pengantin masih mempersiapkan keduanya.

Selain itu, pernikahan juga menjadi urusan yang lebih sekuler. Survei tersebut menemukan bahwa mayoritas pengantin wanita (62 persen) memilih untuk tidak melangsungkan pernikahan dengan konsep keagamaan dan hanya 42 persen pengantin yang menginginkan pesta lajang.




(TIN)