Studi: Memiliki Saudara Kandung Membuat Seseorang Lebih Empati

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 19 Jun 2018 11:57 WIB
keluarga
Studi: Memiliki Saudara Kandung Membuat Seseorang Lebih Empati
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa memiliki saudara kandung membuat seseorang menjadi lebih baik dan empatik. 

Penelitian yang dilakukan oleh University of Calgary, Université Laval, Tel Aviv University, and the University of Toronto menemukan bahwa anak-anak dengan saudara kandung yang baik dan tumbuh dalam lingkungan hangat dan mendukung cenderung lebih empati dibandingkan anak yang tidak dikelilingi karakter tersebut. 

Para peneliti juga menemukan bahwa baik saudara kandung yang lebih tua maupun yang lebih muda dapat secara positif saling mempengaruhi kepedulian empatik dari waktu ke waktu.

"Temuan kami menekankan pentingnya mempertimbangkan bagaimana semua anggota keluarga, tidak hanya orang tua dan saudara kandung yang lebih tua, berkontribusi pada perkembangan anak-anak," saran Sheri Madigan, asisten profesor psikologi di University of Calgary, yang turut menulis penelitian ini.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development tersebut mempelajari 452 pasangan saudara kandung di Kanada berusia antara 18 bulan dan empat tahun dengan ibu mereka untuk jangka waktu 18 bulan.

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah tingkat empati anak pada awal penelitian dapat memicu perubahan empati saudara lain pada akhirnya. Para peneliti merekam interaksi di rumah keluarga dan meminta para ibu menyelesaikan kuesioner.

Empati anak-anak juga diukur dengan mengamati respons perilaku dan wajah setiap anak terhadap seorang peneliti dewasa yang pura-pura sedih atau terluka. Beberapa tindakan yang dilakukan adalah merusak barang yang disukai atau memukul lutut.

"Meskipun diasumsikan bahwa saudara tua dan orang tua adalah pengaruh sosialisasi utama pada perkembangan saudara kandung yang lebih muda (tetapi bukan sebaliknya), kami menemukan bahwa kedua saudara yang lebih muda dan lebih tua berkontribusi positif terhadap empati masing-masing dari waktu ke waktu," jelas peneliti lain Marc Jambon.

Hasil temuan tersebut tetap sama, bahkan setelah mempertimbangkan tingkat empati setiap anak sebelumnya dan faktor-faktor yang saudara kandung dalam berbagi keluarga seperti praktik pengasuhan atau status sosial ekonomi keluarga. 

Selain itu, para peneliti juga memeriksa apakah pengembangan empati pada anak-anak berbeda karena perbedaan usia atau jenis kelamin di antara mereka. Ternyata tetap sama, kecuali pada adik laki-laki yang tak memberikan kontribusi perubahan signifikan pada empati kakak perempuan.

Pengaruh saudara laki-laki dan perempuan yang lebih tua juga lebih kuat dimana perbedaan usia antara saudara kandung yang lebih besar menunjukkan mereka lebih efektif sebagai guru dan teladan.





(DEV)