Studi: Orang yang Tinggal di Pegunungan Cenderung Memiliki Lengan Pendek

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 22 Jun 2018 11:31 WIB
keluargagenetik
Studi: Orang yang Tinggal di Pegunungan Cenderung Memiliki Lengan Pendek
Menurut para peneliti, kadar oksigen yang lebih rendah pada ketinggian yang lebih tinggi dapat mengurangi efisiensi konversi makanan menjadi energi dalam tubuh individu. (Foto: Louis Lo/Unsplash.com)

Jakarta: Selain gizi dan gen, lingkungan tempat tinggal ternyata juga memengaruhi pertumbuhan tulang. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang tinggal pada ketinggian lebih tinggi cenderung memiliki lengan bawah yang lebih pendek. 

Menurut para peneliti, kadar oksigen yang lebih rendah pada ketinggian yang lebih tinggi dapat mengurangi efisiensi konversi makanan menjadi energi dalam tubuh individu. Selain itu, hal itu dapat menyebabkan keterbatasan energi yang untuk pertumbuhan.

"Temuan kami sangat menarik karena mereka menunjukkan bahwa tubuh manusia memprioritaskan segmen mana yang tumbuh ketika ada energi terbatas yang tersedia untuk pertumbuhan, seperti pada ketinggian yang tinggi. Akibatnya, segmen lain pun dikorbankan, misalnya lengan bawah," kata penulis utama Stephanie Payne dari Universitas Cambridge.


(Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang tinggal pada ketinggian lebih tinggi cenderung memiliki lengan bawah yang lebih pendek. Foto: Christopher Burns/Unsplash.com)

(Baca juga: Benarkah Berat Badan Dipengaruhi Faktor Genetik?)

"Tubuh dapat memprioritaskan pertumbuhan penuh tangan karena itu penting untuk ketangkasan manual, sementara panjang lengan atas sangat penting untuk kekuatan," tambah Payne.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science tersebut memeriksa lebih dari 250 individu yang termasuk dalam populasi Sherpa Himalaya. 

Para peneliti membandingkan data tersebut dengan kelompok-kelompok Tibet yang secara genetis mirip dan hidup di dataran rendah Nepal.

Meskipun pola pertumbuhan segmen ekstremitas diferensial ini menarik, para peneliti masih belum yakin mekanisme biologis dibaliknya.





(TIN)