Langkah-langkah Menghentikan Kecanduan Gim

Raka Lestari    •    Jumat, 22 Jun 2018 07:32 WIB
gadgetperkembangan anakgangguan mental
Langkah-langkah Menghentikan Kecanduan Gim
Peran orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan agar anak-anak tidak sampai mengalami kecanduan gim. (Foto: Kelly Sikkema/Unsplash.com)

Jakarta: Mencegah anak-anak Anda agar tidak kecanduan gaim mungkin tidaklah mudah. Namun peran orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan agar anak-anak tidak sampai mengalami kecanduan gim. 

Bisa dibilang, gim bisa berdampak positif bagi anak-anak yaitu sebagai salah satu sarana hiburan bagi anak-anak. Namun jika berlebihan, gim juga bisa memberikan dampak buruk bagi anak-anak terutama bagi perkembangan mereka. 

Salah satu tanda bahwa anak Anda sudah kecanduan gim bisa terlihat dari postur tubuh mereka. "Yang paling gampang itu kan misalnya postur tubuh. Postur tubuh mereka jadi lebih melengkung karena menunduk dan lain sebagainya. Otomatis nanti ada gangguan mata, gangguan kulit, gangguan otot, dan sebagainya. Ke depannya itu tadi mulai memengaruhi ritme makan, ritme kegiatan, ritme tidur dan akhirnya memengaruhi sosial emosional," ujar Kasandra Putranto, seorang psikolog klinis.

Untuk itu, perlu sekali adanya pembatasan dalam bermain gim bagi anak-anak. Tidak hanya oleh orang tua, namun juga dari seluruh pihak perlu mengawasi berapa lama penggunaan gim bagi anak-anak. 

(Baca juga: Kecanduan Game Masuk Kategori Gangguan Mental)


(Bisa dibilang, gim bisa berdampak positif bagi anak-anak yaitu sebagai salah satu sarana hiburan bagi anak-anak. Namun jika berlebihan, gim juga bisa memberikan dampak buruk bagi anak-anak terutama bagi perkembangan mereka. Foto: Glenn Carstens Peters/Unsplash.com)

"Diperlukan ketegasan dari pemerintah, ada kebijakan-kebijakan yang mengatur mengenai gim dan itu harus tegas. Lalu kemudian juga ketegasan dari pihak keluarga. Ayah dan ibu harus membuat sistem dalam keluarga untuk tidak main terus menerus," ujar Kasandra. 

"Batasan satu dua jam itu sudah seringkali dikumandangkan oleh para psikolog manapun terutama pada anak-anak di bawah umur  karena ketika mereka terpapar dengan gadget, itu kan gelombang elektromagnetik otomatis akan memengaruhi kinerja otak mereka. Maksimal dua jam per hari itu termasuk segala bentuk elektronik entah itu televisi, handphone, laptop, dan lain sebagainya," ujar Kasandra."

Mengenai permasalahan ini Ketua Komisi Perlingungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan, "Agar anak tidak menjadi korban seperti ini harus menjadi gerakan bersama. Satu, proteksi negara harus kuat. Kedua, penyelenggara gim harus benar-benar bertanggung jawab. Dan yang ketiga adalah kualitas pengasuhan juga menentukan."

"Seberapa jauh anak bisa memainkan gim secara positif. Harus diingat bahwa gim itu sebenarnya netral, bisa bermuatan positif tapi juga bisa bermakna negatif. Tergantung kontennya seperi apa, kontrol yang seperti apa, dan pengaturan waktu," ujar Susanto. 





(TIN)