Benarkah Pola Asuh Helikopter Membuat Anak Sulit Bergaul?

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 20 Jun 2018 13:59 WIB
perkembangan anak
Benarkah Pola Asuh Helikopter Membuat Anak Sulit Bergaul?
Penelitian menemukan bahwa pengasuhan helikopter pada usia dua tahun berkaitan dengan perilaku dan kesejahteraan emosional yang lebih buruk pada saat anak-anak. (Foto: John-Mark Smith/Unsplash.com)

Jakarta: Anak dengan orang tua yang yang terlalu mengontrol cenderung bermasalah di sekolah karena perilaku buruk, demikian menurut sebuah studi. 

Para peneliti dari University of Minnesota tersebut menyimpulkan bahwa pengasuhan yang biasa disebut 'pola asuh helikopter' tersebut memberi dampak negatif pada kesejahteraan emosional anak, membuat mereka kurang bisa mengontrol dorongan batin dalam situasi sosial. 

Sebaliknya, mereka melihat bahwa anak-anak yang belajar untuk menangani situasi yang menantang tanpa campur tangan orang tua akan lebih sukses di kemudian hari.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa anak-anak dengan pola asuh helikopter mungkin kurang mampu menghadapi tuntutan menantang dalam pertumbuhan, terutama dengan lingkungan sekolah yang kompleks," kata penulis utama Nicole Perry, dari University of Minnesota.

"Anak-anak yang tidak dapat mengatur emosi dan perilaku mereka secara efektif lebih mungkin untuk bertindak nakal di ruang kelas, dan butuh waktu lebih lama untuk mencari teman dan berjuang di sekolah," tambah penulis lagi.

(Baca juga: Mainan Seperti Apa yang Baik untuk Menstimulasi Bayi?)

Studi yang diterbitkan oleh American Psychological Association dalam jurnal Development Psychology tersebut meneliti pola asuh dan perilaku dari 422 anak-anak dan orang tua mereka di Amerika Serikat dan Swiss.


(Para peneliti dari University of Minnesota tersebut menyimpulkan bahwa pengasuhan yang biasa disebut 'pola asuh helikopter' tersebut memberi dampak negatif pada kesejahteraan emosional anak, membuat mereka kurang bisa mengontrol dorongan batin dalam situasi sosial. Foto: Courtesy of Getty Images/iStockphoto)

Pada usia dua tahun, ibu dan anak-anak mereka diundang ke laboratorium dan diminta untuk bermain dengan mainan pilihan selama empat menit dan kemudian menyimpannya selama dua menit berikutnya. Sesi-sesi tersebut direkam dan para peneliti untuk menilai seberapa jauh ibu mencoba mengambil alih tugas tersebut.?

Kemudian, pada usia lima tahun, para peneliti melihat respons anak-anak terhadap pembagian permen yang tidak adil, dan kemampuan mereka untuk memecahkan teka-teki di bawah tekanan waktu.

Akhirnya, pada usia 10 tahun, anak-anak ditanyai tentang sikap mereka terhadap sekolah dan guru serta masalah emosional.

Penelitian tersebut menemukan bahwa pengasuhan helikopter pada usia dua tahun berkaitan dengan perilaku dan kesejahteraan emosional yang lebih buruk pada saat anak-anak mencapai usia lima tahun.

Sementara itu, mereka yang lebih mampu mengatur emosi pada usia ini cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dan menjadi lebih produktif di sekolah pada usia 10 tahun.

"Anak-anak yang mengembangkan kemampuan untuk menenangkan diri mereka selama situasi yang menyedihkan secara efektif dan mengatur diri mereka sendiri dengan tepat memiliki waktu yang lebih mudah menyesuaikan dengan tuntutan yang semakin sulit dari lingkungan sekolah praremaja," kata Dr Perry.




(TIN)