Literasi Pembangunan Anak Muda ala Ade Mulya

Raka Lestari    •    Senin, 10 Dec 2018 17:38 WIB
Ade Mulya
Literasi Pembangunan Anak Muda ala Ade Mulya
"Jurnalistik itu harus berdampak. Kita punya kewajiban untuk kepentingan kemajuan bangsa," ujar Ade Mulya. Simak selengkapnya obrolan Ade dengan tim Medcom.id. (Foto: Dok. Medcom.id/Wijokongko)

Jakarta: Isu politik menjadi salah satu isu yang cukup hangat dan sering diperbincangkan, terutama oleh anak muda.

Namun, bagi Ade Mulya, salah satu presenter Metro TV ini anak muda pun harus memiliki concern yang baik dalam hal pembangunan di Indonesia.

Pria yang sudah memulai karier dunia jurnalistiknya sejak tahun 2008 ini menganggap bahwa anak-anak muda saat ini pun tidak hanya perlu 'melek' politik tetapi juga harus memiliki literasi pembangunan yang kuat.

Hal ini pula yang membuat Ade ingin agar anak-anak muda zaman sekarang atau generasi milenial tidak hanya jago dalam bermain sosial media atau menonton YouTube tetapi juga harus mengetahui isu-isu pembangunan.

Karena dalam waktu 5-10 tahun ke depan, merekalah yang memegang tampuk kepemimpinan di Indonesia mendatang. Sudah selayaknya anak-anak muda di Indonesia mengetahui keadaan setiap jengkal tanah air Indonesia.


(Menjadi jurnalis sejak tahun 2008, mulai dari menjadi wartawan cetak sampai wartawan televisi sudah pernah dijalani Ade Mulya. Dan salah satu yang menjadi highlight Ade Mulya adalah bahwa jurnalistik harus berdampak. Foto: Dok. Medcom.id/Wijokongko)

Awal mula tertarik isu-isu pembangunan

Pria yang mengidolakan Najwa Shihab ini pada awalnya lekat dengan isu-isu yang berhubungan dengan ekonomi. Hingga pada suatu saat, ia mengaku mulai tertarik pada isu-isu pembangunan terutama yang ada di Indonesia.

"Saya tertarik ke dunia pembangunan itu karena waktu itu saya sedang mengerjakan tesis. Tesis saya itu tentang daya tarik investasi di lima provinsi. Setelah saya melakukan penelitian, lalu ketahuan indikator mana saja yang perlu ditingkatkan di masing-masing kabupaten bahkan provinsi yang nomor satu adalah infrastruktur."

"Anak muda itu perlu mengetahui isu-isu pembangunan karena daya saing kita itu sangat lemah. Bahkan waktu itu saya membandingkan antar provinsi. Provinsi Bali waktu itu, dengan beberapa provinsi lain. Itu antar provinsi saja kita masih liat adanya ketimpangan, apalagi dibandingkan daya saing Indonesia dengan luar negeri itu tuh jauh banget tertinggal karena apa? Karena infrastrukturnya," tukas Ade.

(Baca juga: Mengenal Dua Sisi Aviani Malik)

Membuat program The Nation yang tayang di Metro TV

"Sekarang ini kita memasuki era di mana anak muda mendominasi sehingga segmen kita sudah tidak bisa untuk orang-orang tua seperti segmen Metro pada biasanya. Akhirnya kita berusaha untuk meng-grab anak-anak muda. Berawal dari premis bahwa anak-anak muda ini setelah tumbangnya rezim soeharto itu tidak ada lagi jurnalisme pembangunan," ujar Ade.

Menurut Ade, pada masa lalu jurnalisme pembangunan itu hidup dan berkembang menyosialisasikan program-program pemerintah kepada masyarakat. Namun setelah rezim Soeharto berakhir, yang mendominasi saat ini adalah berita-berita dan debat politik.

"Apa sih yang diperdebatkan oleh politisi ketika debat? Biasanya data-data pembangunan, satu pihak bilang kemiskinan sudah menurun, sisi satu bilang kemiskinan masih banyak. Itu mereka berdebat di depan layar, sementara kita tahu bahwa Indonesia itu luas banget, tidak layak kalau hanya diperdebatkan di depan layar. Akhirnya kita mengangkat tema-tema jurnalisme pembangunan, mengangkat isu-isu pembangunan yang diarahkan terutama untuk anak-anak muda, untuk literasi pembangunan dan kita on location dari Sabang sampe Merauke."

"Jadi program ini tuh benang merahnya adalah literasi pembangunan. Kalau literasi politik udah banyak banget kan, talkshow-talkshow ada banyak. Tapi kalau literasi pembangunan, politisi-politisi bisa memainkan data pembangunan sementara kita enggak melihat kondisinya apa." Menurut Ade, media memiliki kekuatan untuk mengangkat suatu isu dan membawa perubahan.

"Dan kita tidak akan mendapat insight baru seperti itu ketika kita hanya di studio, makanya kita ke lapangan, dengerin cerita ini dan itu," tambahnya.


(Menurut Ade, pada masa lalu jurnalisme pembangunan itu hidup dan berkembang menyosialisasikan program-program pemerintah kepada masyarakat. Namun setelah rezim Soeharto berakhir, yang mendominasi saat ini adalah berita-berita dan debat politik. Foto: Dok. Medcom.id/Wijokongko)

Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain

"Mungkin orang berpikir program ini program jalan-jalan, tapi ini bukan. Kita hanya ingin memotret, istilahnya mungkin literasi pembangunan ya. Jadi kita punya hashtag yaitu #marimembangunnegeri," ujar Ade. Meskipun memang Ade dan Tim The Nation harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

"Jadi dalam beberapa bulan itu saya bisa ada di Sabang, tiba-tiba ada di Merauke dan bukan hanya jalan saja tetapi kita juga ke desa. Jadi stakeholders dalam pembangunan itu ada pemerintah, ada masyarakat, ada LSM, ada swasta. Saya pernah wawancara sama Pak Jokowi, pas beliau ke Sukabumi bawa motor. Kita udah nungguin di tengah sawah, jadi wawancaranya di tengah sawah," cerita Ade.

Menurutnya, itu merupakan salah satu pengalaman yang berkesan karena bisa mewawancarai Presiden Jokowi di tengah-tengah sawah.

"Biasanya orang-orang wawancaranya di istana, ini Presiden Jokowi kita wawancara bener-bener di tengah sawah, di tengah orang-orang yang tengah mengerjakan proyek padat karya. Di sana kita hadirkan pengamat, warga-warga juga kita wawancara. Ada pro kontra di situ, presiden ngomong terus nanti dikomenin sama warga-warga di situ. Dengan membawa orang nomor satu langsung ke lokasi, anak-anak muda pun bisa tahu apa sih sebetulnya yang menjadi masalah."

"Bahkan waktu ke Palu, semua liputan tentang orang yang bersedih, tentang kehilangan rumah, tapi pas kita ke sana saya dengar masyarakat setempat suku asli sudah pernah bilang bahwa daerah itu tuh 80 tahun yang lalu pernah terjadi likuefaksi. Jadi kearifan lokal itu sudah dilupakan dalam membangun."

"Sampai kemudian perumnas masuk situ, bangun di situ. Kemudian jadilah kita akhirnya angkat story itu. Nah, kalau kita hanya di studio kan kita tidak akan dapat cerita-cerita sperti itu," jelas Ade.


(Pria yang mengidolakan Najwa Shihab ini pada awalnya lekat dengan isu-isu yang berhubungan dengan ekonomi. Hingga pada suatu saat, ia mengaku mulai tertarik pada isu-isu pembangunan terutama yang ada di Indonesia. Foto: Dok. Medcom.id/Wijokongko)

Sepenggal cerita dari Nangalanang

Salah satu pengalaman berkesan yang tidak dilupakan oleh Ade adalah ketika tim The Nation melakukan peliputan ke suatu daerah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bernama Nangalanang.

Sebuah dusun tertinggal di mana warga-warga di sana hidup dengan kemiskinan, bahkan ada warganya yang tidak memiliki atap sehingga jika musim hujan tiba warga tersebut harus mengungsi ke rumah tetangganya.

"Yang di Nangalanang itu menarik, menariknya karena mereka bukan korban gempa terus pas saya wawancara itu muka saya merah karena saya nahan nangis karena ibu ini cerita dengan gamblangnya dengan keadaan seperti itu."

"Kita pada waktu itu lagi liputan di daerah Ronting, kemudian untuk mencapai ke Nangalanang itu harus jalan darat selama 8 jam. Awalnya banyak yang memberi tahu untuk jangan ke sana karena daerahnya rawan, mereka tidak terbuka segala macem. Pada saat kita ke sana, kita jadi tahu kenapa mereka sebegitu marahnya kalau ada orang luar yang datang ke tempat mereka karena mereka apatis, kayak misalnya mereka nanya 'Kalian dari tv mana? Emang kita kalau diliput bakal berubah?' seperti itu."

Namun Ade dan tim tidak menyerah begitu saja, dengan mendekati kepala adat dan melakukan pendekatan secara baik-baik. Akhirnya ia dan tim The Nation berhasil masuk ke daerah tersebut.

"Untuk masuk ke kawasan itu saja kami harus melewati tiga aliran sungai besar. Jadi kalau misalnya sore mau pulang, itu jam 4 harus jalan karena kalau enggak, air laut akan meluap dan kita enggak bisa lewat sama sekali. Itu kita nyewa truk baru kita bisa lewat ke sana."

Selama berada di Nangalanang, Ade tidur bersama warga dan merasakan penderitaan yang selama 45 tahun terakhir ini harus dialami oleh warga Nangalanang.

Warga Nangalanang di sana, sebenarnya bukanlah penduduk asli Nangalanang. Mereka adalah para warga yang harus melakukan transmigrasi lokal yang disuruh oleh pemerintah saat itu.

"Jadi mereka itu sebenarnya berasal dari Ruteng, pada saat itu sebanyak 400 kepala keluarga diharuskan untuk melakukan transmigrasi lokal karena daerah mereka akan dibangun rumah sakit dan sekolah."

Bukannya mendapat uang, para warga yang harus melakukan transmigrasi lokal tersebut justru diharuskan untuk membayar sejumlah uang.

"Mereka pindah dan mereka pun harus bayar, akhirnya rumah-rumah mereka tanah-tanah sisa mereka itu dijual dan mereka dateng ke sana 400 kepala keluarga. Sampai di sana, rumahnya yang dijanjikan tidak ada. Baru ada pondasi, sama 8 seng, sama 8 sak semen," cerita Ade.

Kondisi yang serba terbatas itulah yang membuat akhirnya warga harus tinggal berdesak-desakan. Satu rumah bahkan bisa diisi sampai empat kepala keluarga.

"Akhirnya dalam perjalanannya itu 45 tahun, ada yang meninggal, ada yang kelaparan, ada yang kena malaria, ada yang TKI keluar dan tidak pernah pulang. Kalaupun pulang juga karena sakit kemudian langsung meninggal atau jadi korban perdagangan manusia. Akhirnya kan ini karena adanya kebijakan yang salah, mereka yang sengsara. Dan saya yakin di tempat-tempat lain ada banyak yang seperti itu cuma mungkin belum keeksplor saja."


(Isu politik menjadi salah satu isu yang cukup hangat dan sering diperbincangkan, terutama oleh anak muda. Namun, bagi Ade Mulya, salah satu presenter Metro TV ini anak muda pun harus memiliki concern yang baik dalam hal pembangunan di Indonesia. Foto: Dok. Medcom.id/Wijokongko)

Jurnalistik harus berdampak

Menjadi jurnalis sejak tahun 2008, mulai dari menjadi wartawan cetak sampai wartawan televisi sudah pernah dijalani Ade Mulya. Dan salah satu yang menjadi highlight Ade Mulya adalah bahwa jurnalistik harus berdampak.

"Jurnalistik itu harus berdampak. Kita punya kewajiban untuk kepentingan kemajuan bangsa dan harus berdampak. Kalau misalnya kita eksplor tentang kemiskinan, ya jangan eksploitasi kemiskinannya tapi apa solusinya dan sampaikanlah ke stakeholders-nya supaya ditolong dan dibantu. Pengennya saya sih itu."

"Dan kalau misalnya ada yang kurang kita mau ajak menterinya atau pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Membangun Indonesia itu sulit tetapi kalau misalnya benar-benar dibangun dan anak-anak mudanya tahu dan sadar akan pembangunan pasti kita bisa maju.


(TIN)