Mengendalikan Keinginan untuk Mengontrol Pengeluaran

   •    Senin, 25 Sep 2017 10:05 WIB
tips keuangan
Mengendalikan Keinginan untuk Mengontrol Pengeluaran
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sering kali orang menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu. Upah yang diperoleh setelah bekerja kerap dihabiskan percuma dengan prinsip hidup hanya sekali dan uang masih bisa dicari.

Perencana Keuangan Safir Senduk menduga orang-orang yang mudah membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tak perlu kemungkinan tak mampu membedakan mana pengeluaran yang memang dibutuhkan dan mana yang hanya sekadar keinginan.

Padahal jika dilihat dari jenisnya, Safir menyebut pengeluaran ada tiga macam. Pertama pengeluaran yang wajib, ketiga butuh, dan keempat ingin.

"Kalau wajib itu pengeluaran yang harus kita bayar. Kalau tidak bayar akan ada konsekuensi berupa bunga, denda atau dosa. Misalnya, akan kena denda kalau punya utang tak dibayar, atau akan dosa jika tidak membayar zakat," ujar Safir, dalam I'm Possible bertajuk You Only Live Once, Minggu 24 September 2017.

Sedangkan kebutuhan adalah segala pengeluaran yang harus dibayar tanpa konsekuensi bunga atau denda. Namun jika tidak dibayarkan maka akan ada fungsi yang berhenti.

Contoh, orang memiliki ponsel pasti membutuhkan pulsa. Jika pulsa tidak dibeli, maka tidak akan menyebabkan si pemilik terkena bunga atau denda. Ponsel hanya tidak akan berfungsi untuk menghubungi orang lain.

"Atau Kita punya motor atau mobil, kita butuh buat beli bensin. Kalaupun enggak beli paling tidak bisa dipakai untuk keluar. Jadi hanya fungsinya yang hilang, bukan terkena denda atau bunga," katanya.

Sementara pengeluaran ketiga adalah yang sifatnya hanya keinginan. Contohnya, segala hal yang dilihat di pusat perbelanjaan dan ingin sekali dibeli tetapi bukan karena dorongan kewajiban atau kebutuhan melainkan hanya keinginan semu yang kalaupun tidak dibeli tidak akan menimbulkan masalah.

Safir mengatakan pengeluaran yang dikeluarkan untuk kewajiban dan kebutuhan pasti memiliki batas, sementara keinginan tidak akan ada batasnya.

"Jadi kuncinya kalau kita bisa mengendalikan pengeluaran, kendalikan ingin kita. Ketika kita bisa mengendalikan rasa ingin itu, Kita akan mampu mengendalikan pengeluaran," jelasnya.

Untuk lebih mudah membedakan mana yang menjadi kewajiban, kebutuhan, atau keinginan, Safir membagi pengeluaran itu ke dalam empat pos pengeluaran.

Pengeluaran pertama, alokasikan sekitar 30 persen dari penghasilan untuk membayar cicilan utang yang sifatnya wajib. Kalaupun tak memiliki utang, maka dana tersebut bisa dialokasikan untuk pos lain.

Kedua untuk tabungan dan investasi. Sisihkan sekitar 10 persen dana dari penghasilan, boleh dilebihkan asal jangan dikurangi. Jika ingin lebih cepat sejahtera maka alosakasikan sekitar 30 persen untuk tabungan dan investasi.

Ketiga alokasikan dana dari penghasilan untuk premi asuransi sebesar 10 persen dan keempat, sisa dari penghasilan gunakan untuk biaya hidup. Sesuaikan dana yang dialokasikan untuk biaya hidup dengan kebutuhan sehari-hari.

"Jadi, kalau Anda melihat barang di mall yang katakanlah harganya satu juta kemudian diskonnya 40 persen, yang tadinya tidak butuh lalu belanja karena diskon, ingat Anda bukan hemat 40 persen tetapi lebih boros sebesar Rp600 ribu," kata Safir.




(MEL)