Bercanda Sering Jadi Dalih Pelaku Bullying

Nia Deviyana    •    Selasa, 18 Jul 2017 06:00 WIB
keluarga
Bercanda Sering Jadi Dalih Pelaku Bullying
Ilustrasi Bullying - Metrotvnews.com.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah video memperlihatkan sekelompok mahasiswa sedang membully temannya yang berkebutuhan khusus menjadi viral di media sosial. Banyak orang mengecam sekaligus menyayangkan tindakan tersebut.

Pasalnya, secara usia, seorang mahasiswa sudah masuk kategori dewasa. Membully temannya yang lebih lemah menunjukkan kurangnya rasa empati yang dimiliki.

Menurut psikolog anak Anastasia Satriyo M.Psi, istilah bullying memang belum lama populer. Sebelum istilah ini dikenal, membully sering dianggap sebagai candaan sehingga pelakunya  "dimaklumi" dan tidak mendapat hukuman.

Berkembangnya pemahaman yang salah ini, menjadi salah satu penyebab yang menghambat perkembangan empati seorang anak.

"Jadi, kembali lagi pada pemberian pemahaman dari kecil, kalau begini namanya bully atau bukan. Sejak usia 2-3 tahun sudah bisa dilatih. Dikasih tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Dijarin 'seandainya kamu diperlakukan kayak gini rasanya gimana'. Dan yang paling penting, orangtua harus kasih teladan," jelasnya saat dihubungi Metrotvnews.com, Senin (17/7/2017).

Hukuman yang tepat tentu dapat membuat pelaku bullying jera dan menyadari kesalahannya. Namun, psikolog yang akrab disapa Anas itu tak setuju jika pelaku bullying mendapat skors atau dikeluarkan dari sekolah.

"Saya lebih setuju adanya pendekatan dialog. Bicara one on one secara personal, didampingi ahli. Kalau dikeluarkan dari sekolah, sangat disayangkan. Kondisi krisis begini sebenarnya bisa jadi life changing event buat para pelaku," tambah Anas.

Terapi korban

Anas menuturkan, menjadi korban bullying bukan hal yang mudah. Seringkali pelaku menggunakan dalih bercanda sehingga bebas dari hukuman. Jika demikian, rasa kecewa dan trauma akan menjadi masalah baru bagi korban bullying.

"Kasus bullying memang sangat subjektif. Ada figur yang lebih otoritas. Biasanya alibi pelaku hanya bercanda. Di sini, kita harus respect sama korban," urainya.

Terapi agar korban bullying hilang traumanya bisa dilakukan dengan pendekatan pendampingan oleh ahli atau psikiatri.

Selain itu, mempertemukan pelaku dan korban juga efektif agar hubungan pertemanan kembali baik.

"Tetapi sebaiknya dilakukan jika pelaku dan korban sudah sama-sama berproses. Jangan dipertemukan ketika korban masih merasa emosi,"  pungkasnya.


Anastasia Satriyo M.Psi, Psikolog Anak di Klinik Brawijaya
Praktek setiap Rabu dan Jumat (dengan perjanjian)



(DEV)