Menyelisik Psikologis Selamat, Remaja yang Nikahi Nenek 71 Tahun

Nia Deviyana    •    Rabu, 05 Jul 2017 16:06 WIB
psikologi
Menyelisik Psikologis Selamat, Remaja yang Nikahi Nenek 71 Tahun
(Foto: Sripo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernikahan Selamat Riyadi bin Husni (16) dengan Rohaya binti Kiagus Muhammad Jakfar (71), warga Desa Karangendah, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan menjadi viral lantaran perbedaan usia yang cukup jauh.

Banyak orang penasaran apa yang membuat Selamat yakin untuk menikahi Rohaya.

(Foto: Perempuan Lebih Tertarik dengan Pujian Metafora)

Mungkin benar, cinta tak memandang usia. Namun, apabila ditelisik secara psikologis, ternyata ada faktor yang mendorong pria untuk menikah dengan wanita yang usianya terpaut jauh. Belum tentu cinta, tetapi akibat keterikatan emosional yang cukup ekstrem dengan sang ibu.

"Anak yang usia 0-5 tahun diasuh terlalu dekat dengan figur ibu, tentunya ada keterikatan mental yang luar biasa sehingga tak bisa memisahkan secara detail antara keterikatan dengan ibu dengan keterikatan dengan lawan jenis. Jadi ketika cari pasangan, carinya yang bisa berperan menyerupai figur ibunya, yang bisa mengasuh, melindungi," jelas psikolog Efnie Indrianie saat berbincang dengan Metrotvnews.com.

Untuk keluarga yang tentunya kaget dengan keputusan sang anak, Efnie menyarankan untuk tidak memojokkan dan jangan lepas memberi dukungan mental.

"Jangan menghakimi pilihannya atau menunjukkan rasa tidak suka. Sebaliknya, bimbing anak untuk lebih menunjukkan sisi maskulinitas sebagai laki-laki seperti harus bertanggung jawab, mandiri, dan lain-lain. Biarkan dia berproses dengan pilihannya," tambah Efnie.

Peran Ayah

Keputusan menikahi wanita yang usianya terpaut jauh memang tak lazim dan mengarah pada gangguan kepribadian tertentu. Namun, hal itu harus dibuktikan dengan serangkaian tes yang mencakup evaluasi tumbuh kembang, melihat bagaimana aktivitas otaknya apakah normal atau tidak, serta wawancara.

"Pertanyaan untuk wawancara sifatnya pertanyaan terselubung sehingga kita bisa dapat gambaran secara detail," kata Efnie.

Lebih lanjut, Efnie menekankan pentingnya figur ayah untuk mengarahkan anak laki-laki agar mengenal identitas gendernya.

"Sejak usia 3 tahun, diajarkan peran laki-laki itu seperti apa, sikapnya bagaimana. Kalau ibunya singel parent, bisa minta tolong kakek atau paman. Jadi hadirnya figur panutan itu sangat penting," pungkasnya.
















Efnie Indrianie, M.Psi.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga
Dan Dosen Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung






 


(DEV)