Benarkah Terlalu Banyak Aktivitas Justru Tak Baik bagi Si Kecil?

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 25 May 2018 16:08 WIB
perkembangan anak
Benarkah Terlalu Banyak Aktivitas Justru Tak Baik bagi Si Kecil?
Sebuah studi menemukan bahwa ekstrakurikuler yang terlalu banyak justru berdampak tak baik pada anak. (Foto: Caroline Hernandez/Unsplash.com)

Jakarta: Banyak orang tua berpikir bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak akan makin maksimal ketika si kecil terlibat dalam banyak aktivitas di luar sekolah. Padahal, sebuah studi menemukan bahwa ekstrakurikuler yang terlalu banyak justru berdampak sebaliknya pada anak.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal Sport Education and Society tersebut menemukan bahwa mayoritas anak-anak (88 persen) turut bergabung dalam sebuah aktivitas organisasi empat hingga lima hari per minggung. Sebanyak 58 persen diantaranya memiliki lebih dari satu aktivitas dalam sehari. 

Ekstrakurikuler adalah aktivitas yang paling umum diambil, dimana mendominasi kehidupan keluarga, terutama pada keluarga dengan lebih dari satu anak. Akibatnya, keluarga lebih sedikit menghabiskan waktu bersama. Selain itu, uang dan energi lebih banyak terserap untuk kegiatan anak di luar.  

(Baca juga: Perlunya Pendampingan Orang Tua Saat Anak Bereksplorasi)


(Ekstrakurikuler adalah aktivitas yang paling umum diambil, dimana mendominasi kehidupan keluarga, terutama pada keluarga dengan lebih dari satu anak. Akibatnya, keluarga lebih sedikit menghabiskan waktu bersama. Foto: Ben Hershey/Unsplash.com)

"Orang tua memulai dan memfasilitasi partisipasi anak-anak mereka dalam kegiatan yang diselenggarakan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah 'orang tua yang baik'," kata penulis utama Sharon Wheeler dari Edge Hill University di Inggris.

Namun, penelitian tersebut menyoroti bahwa kenyataannya bisa agak berbeda. 

Meskipun anak-anak mungkin mengalami beberapa manfaat dari aktivitas tersebut, jadwal kegiatan yang sibuk dan terorganisir dapat memberikan tekanan yang besar pada sumber daya orang tua dan hubungan keluarga, serta berpotensi membahayakan perkembangan dan kesejahteraan anak-anak. 

Menurut para peneliti, sampai keseimbangan yang sehat tercapai, kegiatan ekstrakurikuler yang terus didahulukan daripada waktu keluarga akan lebih berpotensi lebih berbahaya dibanding sebaliknya.





(TIN)