Bejibun Prestasi Stephanie Handojo, Anak Sindroma Down yang Didukung Sang Ibu

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 29 Mar 2018 07:26 WIB
keluargadown syndrome
Bejibun Prestasi Stephanie Handojo, Anak Sindroma Down yang Didukung Sang Ibu
Memiliki kebutuhan khusus bukan berarti halangan bagi Stephanie Handojo (26) untuk berprestasi. (Foto: Dok. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan)

Jakarta: Memiliki kebutuhan khusus bukan berarti halangan bagi Stephanie Handojo (26) untuk berprestasi. Perempuan kelahiran 1992 ini berhasil meraih berbagai penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional.

Beberapa di antaranya adalah peraih medali emas di Special Olympics World Summer Games di Athena (Yunani) 2011, salah satu pemegang Obor Olympiade London 2012, sebagai Duta Penyampai Pesan Inklusi dan Respek pada anak tunagrahita di seluruh dunia dalam International Global Messenger (IGM) 2015, hingga mendapat penghargaan sebagai Atlet Berprestasi Nasional 2017 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (KEMENPORA RI). 

Semua kebanggan tersebut tak lepas dari peran serta sang ibu, Maria Yustina, yang selalu setia mendampingi dan mengajari. 

"Memiliki anak yang memderita Sindroma Down (SD), pastinya tak ada orang tua yang siap. Namun saya bisa menerima karena percaya ini kehendak Tuhan," pungkas Yustina dalam acara peringatan Hari Sindroma Down Sedunia 2018, Rabu 28 Maret 2018. 

Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak pertamanya tersebut, termasuk memutuskan pindah dari Surabaya ke Jakarta untuk penanganan yang lebih baik. Saat itu, usia Stephanie adalah 3,5 tahun.

"Saya mengikuti langkah Stephanie berbagai terapi, termasuk terapi bicara agar bicaranya lancar," tukas ibu yang ingin anaknya tersebut bisa Ansori dalam menjalani hidup.

(Baca juga: Sindroma Down Bisa Dideteksi Sejak dalam Kandungan)

Tak hanya terapi, Yustina juga menjadi terapis pribadi bagi Stephanie dimana ia mengajarkan berbagai hal karena menyadari bahwa proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus tidaklah mudah dan instan.

"Saya benar-benar mengajarkan dia dengan stimulasi langsung, misalnya ia memegang benda, mencium, bahkan meraba. Sebagai ibu kita harus kreatif dalam mengajarkan anak, karena perlu diajarkan berulang," tukasnya.

Usaha Yustina tak sia-sia. Stephanie dapat berperilaku layaknya anak-anak lain dalam hal komunikasi dan keseharian, bahkan bersekolah di sekolah normal.

Awalnya, Stephanie disekolahkan di Sekolah Inklusi saat memasuki bangku sekolah dasar. Ternyata, kemampuan dia di atas rata-rata dimana saat berusia 8 tahun dia sudah berada di kelas 5. Akhirnya, ia dipindahkan ke sekolah biasa dengan dimulai kelas 3 SD. Jenjang pendidikan normal terus ia jalani hingga akhirnya ia bisa lulus dari Sekolah Pariwisata jurusan Perhotelan pada tahun 2012.

Tak hanya akademis, Stephanie juga menjajal bakatnya di bidang olahraga. Yustina mengungkapkan bahwa ia mengarahkan Stephanie ke bidang ini agar sang buah hati memiliki rasa bangga pada diri sendiri.

"Awalnya Stephanie belajar berenang karena olahraga ini bagus untuk melatih motorik," tambah Yustina.

Ternyata, Stephanie menunjukkan kemampuannya dengan mendapatkan medali emas dalam berbagai ajang perlombaan, beberapa diantaranya SO World Games Athena 2011, SO Regional Games Auatralia 2013, dan SO Singapore National Games 2017.

Akhir kata, Yustina berpesan kepada para orang tua dengan anak kebutuhan khusus bahwa fungsi peran orang tua dan anak tidak boleh dibalik.

"Ibu jangan terus menuruti anak, tapi mendidik dan mengajari dengan baik dan benar agar anak bisa setidaknya mandiri," ungkapnya. 






(TIN)