Metro Plus

Kekerasan dalam Hubungan Berpotensi Berulang

   •    Kamis, 13 Jul 2017 14:24 WIB
romansa
Kekerasan dalam Hubungan Berpotensi Berulang
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kekerasan dalam sebuah hubungan tak hanya terjadi pada mereka yang berstatus suami istri. Faktanya, banyak pasangan remaja yang berpacaran pun mengalami kekerasan dalam hubungan.

Psikolog Klinis Dewasa Pingkan Rumondar menyebut, paling tidak pasangan muda yang belum terikat pernikahan rentang usia 18-25 tahun pernah mengalami kekerasan.

Kekerasan, kata dia, tak melulu berujung pada menyakiti secara fisik. Ada pula kekerasan yang terlihat namun tak disadari bahwa hal itu merupakan tindakan yang menyakiti orang lain.

"Dalam pacaran kan misalnya meminjam, menitipkan barang, ketika salah satu pihak memanfaatkan hak milik dari pasangan tanpa izin, itu juga kekerasan. Ada lagi kekerasan secara psikologis, misalnya memaki atau memanggil dengan sebutan kurang layak," ujar Pingkan, dalam Metro Plus, Kamis 13 Juli 2017.

Menurut Pingkan, kekerasan dalam pacaran tidak bisa dikategorikan sebagai gangguan psikologis seperti depresi atau kecemasan. Namun hal ini merupakan dampak dari orang yang memiliki gangguan kepribadian tertentu yang keluarnya dalam bentuk kekerasan.

"Atau dia dari lingkungan atau lahir dari orang tua yang pola hubungannya dekat dengan kekerasan. Mereka menilai wajar, laki-laki memukul perempuan, atau perempuan menerima saja ketika dipukul atau dipanggil dengan kata-kata kasar," katanya.

Bagi sebagian besar orang, mungkin melihat seseorang mengalami kekerasan oleh pasangannya mudah untuk mengatakan agar diakhiri saja. Namun mereka tidak memahami bahwa ada fase-fase yang harus dilalui oleh korban kekerasan untuk lepas dari pasangan.

Umumnya, pasangan yang kerap mengalami cekcok hingga mengalami kekerasan memulai hubungan dari fase normal, kemudian masuk fase bulan madu ketika semua hal dianggap baik. Setelah itu barulah masuk fase ketegangan, mulai ada konflik yang berujung pada kekerasan.

Biasanya, fase itu akan berulang. Salah satu pihak akan meminta maaf namun kebaikannya hanya sementara. Di lain hari bukan tidak mungkin kekerasan akan kembali terjadi.

"Hubungannya akan putar-putar disitu saja. Kalau sampai satu siklus maka siklus berikutnya akan lebih cepat jadi masa tenangnya itu akan lebih sebentar dan kekerasannya akan lebih intens," kata Pingkan.

Mengapa akhirnya sulit untuk melepaskan padahal belum ada ikatan pernikahan? Pingkan menduga, salah satu pihak sudah bergantung pada pasangan baik secara emosi maupun ekonomi. Sehingga sulit untuk melepaskan.

"Atau misalnya sudah ada investasi. Contoh, sudah menabung bersama untuk merencanakan pernikahan atau bisa jadi melakukan hubungan seks sebelum menikah," jelasnya.




(MEL)