Studi: Orang Lebih Berempati pada Anjing Ketimbang ke Manusia

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 04 Nov 2017 08:00 WIB
binatang peliharaan
Studi: Orang Lebih Berempati pada Anjing Ketimbang ke Manusia
Studi: Orang Lebih Berempati pada Anjing daripada Manusia

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa manusia ternyata lebih menyukai anjing daripada manusia sendiri. 

Berdasarkan dua studi, terbukti bahwa kita lebih bersimpati pada hewan dibandingkan sesama manusia dalam menghadapi kesulitan. Penelitian medis yang dilakukan oleh Harrison’s Fund melakukan penelitian medis selama dua bulan untuk menguji apakah orang lebih memilih mendonasikan uang untuk membantu hewan atau anjing. 

Ternyata, mereka lebih memilih hewan berkaki empat tersebut. 

Para peneliti mencetak dua iklan yang menanyakan: "Maukah Anda memberikan GBP 5 untuk menyelamatkan Harrison dari kematian yang menyakitkan?" Perbedaannya adalah iklan pertama dengan gambar anak laki-laki, sementara iklan lain bergambar anjing. 

Hasilnya, anjing Horrison lebih banyak menerima donasi. 

Penelitian tersebut mendukung studi lain yang menyimpulkan bahwa kita cenderung lebih sedih mendengar cerita anjing yang dipukul dan terluka dibandingkan manusia yang mengalami hal serupa. 

Kali ini, Professor Jack Levin dan Professor Arnold Arluke, dari Northeastern University di Boston, memberikan 240 partisipan masing-masing satu dari empat laporan koran yang palsu. 

Artikel tersebut menggambarkan sebuah serangan "dengan tongkat baseball oleh penyerang yang tidak dikenal" bertuliskan: "Beberapa menit setelah penyerangan, petugas polisi menemukan korban dengan satu lengan patah, beberapa luka baret, dan pingsan."

Namun, korban yang disebutkan berbeda: bayi berusia 1 tahun, orang dewasa berusia 30 tahun, seekor anak anjing, dan anjing dewasa berusia 6 tahun.

Para pastisipan menunjukkan tingkat empati yang sama pada bayi, dan kedua anjing, namun tidak dengan orang dewasa. 

"Para responden secara signifikan tidak merasa tersebut ketika orang dewasa menjadi korban, dibandingkan dengan bayi, anak anjing, dan anjing dewasa," demikian menurut para peneliti. 

Mereka menyimpulkan, banyak orang menganggap anjing sebagai anggota keluarga mereka. 

"Subyek tidak memandang anjing mereka sebagai binatang, namun lebih ke bayi berbulu atau anggota keluarga diantara anak-anak manusia." 

Mereka juga menemukan bahwa kita lebih cenderung merasakan empati pada korban jika kita menganggapnya tidak berdaya dan tidak dapat menjaga diri mereka sendiri.



(ELG)