Tantangan Berkarier di Bidang Politik bagi Perempuan Masa Kini

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 17 Mar 2017 21:22 WIB
karier
Tantangan Berkarier di Bidang Politik bagi Perempuan Masa Kini
Menurut Mercy Chriesty Barends, salah satu anggota Komisi VII DPR RI mengatakan terdapat beberapa tantangan yang dihadapi para wanita yang berkecimpung di dunia politik. (Foto: Ilustrasi. Dok. Iknowpolitics.org)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setiap wanita mengalami tantangan masing-masing dalam bidang pekerjaan yang digeluti, terutama dalam bidang politik. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu anggota Komisi VII DPR RI, Mercy Chriesty Barends.

Mercy mengungkapkan, keterlibatan wanita dalam ranah politik formal menciptakan benturan ruang yang luar biasa antara kehidupan pribadi dan publik. 

"Ini karena wilayah publik didominasi oleh pria dan seluruh perkumpulan politik formal terdapat di wilayah publik," tukasnya dalam talkshow UN Women "Breaking Gender Barriers", Kamis (16/3/2017) lalu. 

Menurutnya, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi para wanita yang berkecimpung di dunia politik, misalnya perkara multi burden dimana wanita menanggung beban berlapis.


(Foto: Mercy Chriesty Barends. Dok. Mediaindonesia.com)

(Baca juga: Usia 20an Lebih Baik Fokus Karier daripada Percintaan)

"Ada berbagai beban yang ditanggung wanita yang bekerja di bidang politik, mulai dari beban keluarga, diri sendiri, struktural, dan masyarakat. Selain itu, wanita juga memiliki banyak isu, seperti kekerasan, kematian, dan juga kemelaratan," tambahnya. 

Selain itu, wanita juga harus bisa berjuang dalam tingkat struktural dan prosedural untuk bisa mendapatkan perhatian di bidang politik, tak hanya berjuang melalui sektor luar pemerintahan. 


(Foto: Acara "Breaking Gender Barriers", Kamis (16/3/2017). Dok. Metrotvnews.com/Sri Yanti Nainggolan)

"Teman-teman aktivits cenderung menghindari politik, padahal kita harus refleksi diri juga. Kalau hanya berada di luar sistem politik, maka bisa terjadi kekosongan perspektif perempuan dalam kebijakan publik," terangnya. 

Terakhir, pengetahuan yang masih sedikit akan dunia politik dinilai Mercy sebagai tantangan besar karena menurutnya konstruksi masyarakat yang membuat wanita memang kesulitan memasuki wilayah tersebut. 

"Selama dua periode di DPRD Provinsi dan sekarang RI, saya berjumpa dengan banyak wanita yang masuk di politik, baik karena keinginan atau tidak, namun kebanyakan buta politik. Kita perlu kerjasama untuk bisa masuk ke dalamnya," katanya. 






(TIN)