Satu dari 10 Kasus Bunuh Diri Dipicu Penyakit Kronik

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 25 Jul 2017 16:51 WIB
keluarga
Satu dari 10 Kasus Bunuh Diri Dipicu Penyakit Kronik
Ilustrasi/Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan, bahwa setidaknya 10 persen kasus bunuh diri di Inggris berhubungan dengan penyakit kronik, menyumbang lebih dari 400 kasus kematian dalam setahun.

Studi berjudul The Truth About Suicide  tersebut ingin membuktikan, apakah memang bunuh diri lebih dipicu oleh kesehatan mental dibandingkan fisik. Para peneliti juga menemukan bahwa mereka yang mengakhiri hidup di usia muda ingin menghindari gejala dan rasa sakit yang lebih parah di kemudian hari.

Gambaran tersebut diperoleh dari berbagai sumber, termasuk 147 pusat perawatan yang melakukan audit kasus bunuh diri tahunan. Selain itu, dilakukan wawancara pada para pensiunan dan pemeriksaan kasus bunuh diri di Norwich sejak Mei 2006 hingga Desember 2010. Terlihat bahwa 10 persen dari total 4.390 kasus bunuh diri mengalami kondisi kesehatan serius yang merupakan salah satu faktor pemicu.

"Hasil ini mengerikan: setidaknya 400 orang dengan penyakit kronik atau terminal melakukan bunuh diri setiap tahun dan ini tak bisa dibiarkan terus-menerus," tukas pemimpin studi Louise Bazalgette.

Penelitian tersebut juga berfokus pada kelompok lain seperti narapidana.

"Delapan puluh narapidana bunuh diri tahun lalu, angka ini seperlima dari jumlah pasien yang mengalami kondisi kronik. Mereka membutuhkan bantuan," tambahnya.

Linda Gask, profesor bidang psikiatri di University of Manchester mengungkapkan, berpikir bahwa depresi adalah pemicu yang cukup membuat seseorang ingin bunuh diri adalah salah. Hal ini dikarenakan kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berhubungan. Misalnya, 30 persen penderita diabetes mengalami depresi namun mereka tak berkeinginan untuk bunuh diri.

"Di sisi lain, mereka justru berlibur supaya tak depresi. Mereka membuat keputusan rasional karena mereka tak ingin hidup seperti itu," tambahnya.

"Orang dengan kondisi kronis tak melakukan bunuh diri namun cenderung apatis pada kehidupan. Mereka tak ingin bunuh diri namun mengambil keputusan yang dapat meingkatkan risiko tersebut," demikian menurut Jo Ferns selaku pemimpin penelitian untuk orang Samaria.

Oleh karena itu, tambahnya, orang-orang di sekitar penderita harus memerhatikan mereka.




(DEV)