Bahu Membahu Menjawab Tantangan Kemandirian Susu Nasional 2025

Dhaifurrakhman Abas    •    Kamis, 13 Dec 2018 11:47 WIB
susu
Bahu Membahu Menjawab Tantangan Kemandirian Susu Nasional 2025
Suasana peresmian Dairy Village di Ciater, Jawa Barat, (Foto: Dhaifurrakhman Abas/Medcom.id)

Jakarta: Presiden Direktur PT. Frisian Flag Indonesia, Maurits Klavert, mengatakan produksi susu perah dalam negeri saat ini masih rendah. Indonesia masih mengandalkan sistem impor dalam memenuhi kebutuhan komoditas tersebut.

"Kita baru berkontribusikan 20 persen dari konsumsi susu di Indonesia. Berarti sisanya sekitar 80 persen masih diimpor dari berbagai negara seperti Selandia Baru dan Australia," kata Maurits dalam peresmian Dairy Village di Ciater, Jawa Barat, Selasa 11 Desember 2018.

Padahal, menurut dia, produksi susu merupakan komoditi potensial yang bisa meningkatkan perekonomian negara. Apalagi permintaan terhadap komoditi peternakan sebagai sumber protein hewani semakin meningkat, seiring pertambahan jumlah penduduk berikut kesadaran masyarakat dalam pemenuhan gizi.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya konsumsi protein hewani dari 6,8 liter/kapita per tahun pada 2005. Pada 2008 konsumsi susu meningkat menjadi 7,7 liter/kapita per tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan susu Indonesia berada pada angka 16,5 liter/kapita per tahun 2017.

Baca juga: Terapi dengan Teknologi untuk Penderita Stroke

"Meningkatkan produksi susu dalam negeri membantu ketahanan pangan dan ekonomi indonesia. Dan pada akhirnya daya beli masyarakat dan menyejahterakan peternak sapi perah," ujarnya.

Untuk itu Maurits mengimbau seluruh masyarakat, khususnya peternak sapi perah bergotong royong dalam meningkatkan produksi susu di Indonesia. Hal ini sekaligus untuk mewujudkan kemandirian produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) sebesar 60 persen dari kebutuhan susu nasional pada 2025.

Dalam hal ini, PT. Frisian Flag Indonesia telah mengambil inisiatif membangun dairy village atau desa susu modern pertama di Indonesia yang resmi berdiri pada Selasa, 11 Desember 2018 di Ciater, Jawa Barat. Dairy village ini merupakan sentra produksi susu peternak rakyat terintegrasi.


Susu perah Indonesia masih mengandalkan sistem impor dari luar negeri (Foto: Dhaifurrakhman Abas/Medcom.id)

Seluruh hasil produksi susu akan diserap seluruhnya oleh PT. Frisian Flag Indonesia. Proyek ini juga mendapat sokongan dana dari Pemerintah Belanda serta bekerjasama dengan PTPN VIII dalam hal penyewaan lahan seluas 1 hektar, yang mampu menampung 130 ekor sapi. 

Dairy Village didirkan untuk mengintegrasikan peternakan, rumah perah, tangki pendinginan, dan fasilitas pengolahan kotoran sapi. PT. Frisian Flag Indonesia juga memfasilitasi pelatihan dan workshop bagi masyarakat maupun pihak yang ingin mempelajari pola produksi komoditas tersebut secara profesional dan berstandar internasional.

"Kami percaya ini akan menjadi inspirasi berbagai pihak bahwa Indonesia bisa meningkatkan produksi susu dalam negeri secara mandiri," katanya.

Ketua Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU JABAR) Deddy Setiadi mengungkapkan, program pembangunan fasilitas dan kemitraan ini seharusnya juga disokong penuh oleh pemerintah daerah serta stakeholder terkait. 

Sebab, kapasitas dairy village di Ciater tersebut masih terlampau kecil dalam menjawab tantangan kemandirian susu nasional 2025.

Dia berharap konsep Dairy Village tersebut bisa diterapkan di lokasi lain. Misalnya saja di Bandung Barat yang memiliki lahan luas serta terkenal akan sentra susu. 

"Saya berharap Dairy Village ini menjadi langkah penyemangat peternak untuk hijrah. Ini adalah mimpi kita dan akan jadi bertambah banyak di periode berikutnya," harapnya.

Dilema Konsumsi Susu Nasional



(FIR)