Tema Khusus Rona

Perjuangan Butet Manurung Mengubah Persepsi Orang Rimba

Raka Lestari    •    Senin, 08 Oct 2018 15:54 WIB
pendidikankisah inspiratif Butet Manurung
Perjuangan Butet Manurung Mengubah Persepsi Orang Rimba
Butet Manurung, sosok inspiratif dan teladan yang mengabdikan diri dan mencerdaskan bangsa bagi suku yang hidup serta mendiami hutan Taman Nasional Bukit Duabelas. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Jakarta: Pohon-pohon tinggi berdiri menjulang, sebagian besar akar-akarnya bergelayut dan dinaiki oleh anak-anak. Di dalam hutan yang sama gemericik sungai yang jernih bersuara seakan menceritakan tentang bagaimana kehidupan di dalamnya. Mungkin pepohonan serta sungai itu menjadi saksi bisu di mana perempuan yang bernama asli Saur Marlina Manurung berjuang bagi pendidikan Orang Rimba.

Butet Manurung, sapaan akrab perempuan berambut keriting ini menembus hutan belantara Taman Nasional Bukit Duabelas yang terletak di Kabupaten Sarolangun, Jambi, Sumatera untuk mengabdikan diri bagi suku Orang Rimba, salah satu suku yang tinggal di Taman Bukit Dua Belas tersebut.

Siapa menduga, semangat serta pertaruhan hidupnya sangat inspiratif dan teladan untuk mengabdikan diri dan mencerdaskan bangsa bagi suku yang hidup serta mendiami hutan tersebut. Ia adalah pendiri Sokola Rimba.


(Sosok inspiratif Butet Manurung, menembus hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, Sumatera membangun Sokola Rimba. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Awal Butet Mengajar

Butet Manurung pertama kali mulai mengajar di masyarakat Rimba (suku Kubu) yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi pada tahun 1999. Ketika itu, ia masih tergabung dengan salah satu LSM untuk mengajar suku Rimba tersebut. 

"Awalnya tantangan yang susah di Sokola Rimba itu tidak dipercaya karena kita orang luar. Mereka anti orang luar, tidak pernah melihat perempuan jalan sendiri ke rimba. Jadi ketika saya jalan sendiri ke rimba mereka aja udah bingung," tutur Butet.

Banyak masyarakat Rimba yang justru malah bertanya-tanya kepada Butet, "Kamu laki-laki apa perempuan? Kok jalan sendiri ke Rimba? Kok pakai celana panjang? Mereka banyak yang bertanya seperti itu," kenang Butet sambil tertawa. 

Bahkan menurut Butet, Orang Rimba juga terkadang terheran-heran ketika Butet datang bersama temannya yang lawan jenis. "Terus kalau datang sama teman, teman laki-lakinya pasti ditanya 'suaminya bukan?' Kalau dibilang bukan, mereka langsung menjauhi saya dibilang orang yang jahat karena jalan bukan sama suaminya." Hal-hal seperti itulah yang membuat pada awal datang ke masyarakat Rimba di Jambi itu membuat Butet tidak memiliki teman. 

"Jadi awalnya itu susah, punya temen aja susah. Saya berjalan keliling-keliling tujuh bulan baru saya punya teman di rimba. Itupun hanya anak-anak yang mau main sama saya. Itupun saya minta dipasangin jerat, mancing ikan, panjat pohon, kayak-kayak gitu. Jadi lebih cenderung saling bertukar skill. Saya ngajarin dia baca, dia ngajarin saya apa," cerita Butet. 

Selain tantangan-tantangan tersebut, tantangan lainnya salah satunya adalah biasanya hanya anak laki-laki yang boleh sekolah. Masyarakat Rimba menganggap bahwa perempuan seharusnya dilindungi dari sekolah. Meskipun sekolah memiliki manfaat kebaikan, Orang Rimba menganggap bahwa sekolah juga memiliki bahaya sehingga perempuan tidak boleh sekolah. 

"Jadi karena itu, yang boleh sekolah sebaiknya laki-laki saja karena sekolah itu dianggap sebagai senjata untuk berperang. Berperang terhadap dunia luar. Nah, berperang itu kan urusan laki-laki, perempuan yang dilindungi. Jadi perempuan tidak boleh sekolah," ungkap Butet. 

Dengan adanya kenyataan tersebut, Butet mengaku merasa sedih terutama ketika melihat perempuan di masyarakat Rimba yang ingin bersekolah. Namun ia mengaku tidak mau mengganggu adat istiadat yang sudah ada sejak lama di masyarakat Rimba tersebut. 

"Jadi saya tunggu saja, ini 19 tahun yang lalu ya. Nanti kan anak murid saya yang 19 tahun lalu sudah menikah, punya anak, punya anak perempuan, biarlah dia yang mengajarkan anak perempuannya itu, karena kita enggak mau betul-betul dibilang merubah adat mereka kecuali diminta mereka ya kita mau." 



Ingin Mengubah Persepsi Masyarakat Mengenai Orang Rimba

Jika pada awal masuk ke pedalaman rimba kesulitan yang dihadapi oleh Butet berasal dari masyarakat dalam rimba sendiri, untuk sekarang tantangan justru berasal dari masyarakat yang berada di luar pedalaman yang terkadang masih memiliki persepsi yang salah terhadap orang-orang di pedalaman. 

"Kalau tantangan sekarang, yang lebih berat sebenarnya menurut saya dunia kita ini karena saya kemudian menyadari Orang Rimba atau masyarakat Rimba dimanapun di Indonesia sebenarnya baik-baik saja selama tidak diganggu oleh orang-orang seperti kita ini. Misalnya hutannya diambilin, tradisi-tradisi yang ada dalam masyarakat di sana dipaksa berubah. Katanya pakai cawat itu dibilang telanjang, padahal cawat itu operasional di rimba," ujar Butet bersemangat. 

"Coba kita pakai baju lengkap panjat pohon, ya tidak bisa sampai ke atas pohon. Atau misalnya pakai baju lengkap lalu masuk ke sungai, kita tidak akan bisa ngangkat badan ke atas karena berat karena basah. Jadi semuanya yang ada di rimba itu sangat ideal dan sangat sempurna untuk lokasi itu." 

Menurutnya, tantangan terberat saat ini adalah bagaimana mengubah persepsi Indonesia terhadap masyarakat adat yang masih sangat banyak tersebar di pedalaman-pedalaman di Indonesia.

Persepsi indonesia terhadap masyarakat adat terkadang masih memaksakan Orang Rimba harus tinggal di rumah yang memiliki dinding, Orang Rimba seharusnya berpakaian lengkap, harus beragama lima agama besar. 

"Padahal mereka punya kepercayaan sendiri kan? Nah, yang aku pikir harusnya dapat sekolah itu justru orang-orang luar masyarakat Rimba ini. Jadi kampanye yang aku lakukan sekarang istilahnya mau 'mendidik' dunia luar ini bahwa mereka juga punya definisi pintar, hebat, cantik dan nyaman menurut mereka. Itu tantangan yang terbesar sekarang ini." 


(Butet Manurung, menembus hutan belantara membangun Sokola Rimba. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Pengalaman Berkesan Selama Mengajar Sokola Rimba

Selama mengajar di Sokola Rimba, Butet juga memiliki pengalaman yang berkesan dengan salah satu muridnya yang bernama Pengendum Tampung. Menurut Butet, Pengendum ini merupakan salah satu contoh anak muridnya yang sukses. 

"Jadi dia dulu tidak suka pelajaran matematika, setiap kali diajarin matematika akan lari, kabur, malah sampai muntah-muntah. Dia tidak bisa belajar hitung-hitungan bahkan sampai mengeluh kepalanya berasap kalau belajar matematika. Jadi dia hanya mau belajar bahasa indonesia, public speaking, pidato, belajar hukum-hukum. Bahkan dia sampai hafal pasal dan sekarang ternyata dia jadi jagoan dalam berpidato, suka jadi pembicara di mana-mana, sering bicara di DPR, Mahkamah Konstitusi, bahkan sudah diundang ke Kanada." 

Menurut Butet, Pengendum ini merupakan contoh salah satu muridnya yang sukses karena memang, definisi sukses bagi Orang Rimba berbeda dari kebanyakan.

Ukuran sukses menurut Orang Rimba adalah ketika mereka sudah bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, terutama daerahnya sendiri. Jika seseorang tidak bermanfaat bagi orang banyak dan hanya bermanfaat bagi diri sendiri maka itu dianggap tidak sukses bagi Orang Rimba. 

"Jadi yang dianggap maju buat Orang Rimba itu, adalah anak yang sekolah dan memberi manfaat kembali ke kampung. Kebanyakan kejadian kalau masyarakat adat di Indonesia tuh selalu menuding sekolah formal itu mengajarkan ilmu pergi. Jadi udah sekolah tinggi, tetapi tidak kembali ke kampungnya. Karena apa? Karena ilmu yang dipelajari itu Jakartasentris sehingga hanya cocok diterapkan di Jakarta atau kota-kota besar," ucap wanita berkacamata ini. 

Sejak Kecil Memang Sudah Tertarik dengan Hutan 

Wanita berambut ikal ini mengaku memang sudah mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau alam sejak kecil. Sejak kecil, ia sangat suka buku-buku yang berbau petualangan. "Mungkin karena ayah saya terlalu ngelarang saya. Pegang tanah tidak boleh, ikut Pramuka tidak boleh, pergi ke mana-mana harus diantar supir."

Ia mengaku memiliki minat yang besar terhadap sesuatu yang berbau petualangan. "Setiap kali lihat di televisi ada tentang Papua atau film Indiana Jones, saya tuh rasanya pengen loncat masuk ke dalam situ," ujarnya sambil tertawa. 

Ketika mengutarakan keinginan awalnya, sang ayah tidak menyetujui namun lama kelamaan sang ayah pun mau memenuhi keinginan Butet Manurung yang sangat kuat terhadap alam.

"Saya udah bilang sama papa pengen kayak Indiana Jones, menjadi petualang tapi pintar. Tapi papa bilang itu tuh cuma imajiner, cuma film. Jadi saya benar-benar kejar itu. Hingga akhirnya papa saya bilang 'Kamu jadi apa aja boleh tapi sampai SMA kamu harus dengan papa."

Berharap Anaknya Juga Bisa Mengikuti Jejaknya

Butet juga memiliki keinginan bahwa suatu saat nanti anak-anaknya bisa mengikuti jejaknya berkecimpung di dunia pendidikan bagi masyarakat pedalaman di Indonesia, namun ia tidak ingin memaksakan kehendaknya tersebut. 

"Jadi kemarin anak saya yang baru berusia 3,5 tahun sudah saya bawa ke rimba. Awalnya saya takut dia enggak suka, tapi ternyata dia suka." Menurut Butet, jika anak-anaknya tidak memiliki kesukaan yang sama dengan dia tidak menjadi masalah, yang terpenting adalah anak-anaknya bisa bahagia. 

"Saya tidak tahu yah perkembangannya bagaimana kalau sudah besar nanti. Gimana dia saja maunya apa ke depannya tapi dia memang suka sekali binatang, suka ular, kayak gitu. Mirip saya waktu kecil, mungkin dia pikir semua binatang buas itu baik. Bahkan dia bilang mau masuk ke rimba katanya pingin tunggangin macan," ujar Butet sambil tertawa. 


(Potret keluarga bahagia Butet Manurung. Foto: Dok. Butet Manurung/@butet_manurung)

Ingin Menjadi Diri Sendiri

Memilih jalan untuk memasuki berbagai pedalaman Indonesia, menurut Butet bukan tidak memiliki penolakan dari lingkungan sekitarnya, terutama karena ia merupakan wanita yang nantinya akan menjadi istri dan membesarkan anak-anak di rumah. 

"Jadi saya selama bekerja, sebelum saya berpikir saya akan menikah saya selalu berpikir kenapa saya tidak bisa jadi diri sendiri? Saya ciptakan sendiri model perempuan yang ideal menurut saya. Sampai sekarang saya sudah menikah, sudah punya anak dua masih bisa ke lapangan."

Butet mengaku bersyukur karena ia bisa menjadi sosok perempuan yang ideal menurut dirinya karena ideal menurut setiap individu berbeda-beda. Meskipun dahulu ia selalu mendapat cemoohan dari orang-orang tidak akan bisa mendapatkan pasangan hidup karena kecintaannya terhadap alam tersebut. 

"Padahal dulu saya dibilang, 'kamu perempuan kayak gini, mana ada yang mau sama kamu?' orang di Rimba juga sering mengatakan 'Aduh kamu udah terlalu tua, enggak bakal dapet suami, sudah pahit' Bayangkan, sampai dibilang perempuan pahit segala macam," kenang Butet. 

Namun Butet tetap berani memilih keinginannya tersebut dan berhasil mematahkan perkataan orang-orang terhadap dirinya tersebut yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mendapatkan pasangan hidup.

Nyatanya, saat ini Butet sudah memiliki suami dan dua orang anak. Hal itu menunjukkan bahwa penting sekali untuk tetap percaya pada diri sendiri dan selalu memperjuangkan apapun yang menjadi keinginan kita. 

"Kalau kita jadi diri sendiri, kita enggak akan menyesal. Kalaupun enggak ada yang mau nantinya, kita tidak akan menyesal. Daripada sudah berusaha jadi orang lain, tidak ada yang mau pula. Jadinya menyesal dua kali kan?"

"Jadi saya merasa beruntung, bisa jadi diri sendiri lalu bisa dapat suami yang menerima juga karakter kita," ujar Butet. "Anak saya bahkan saya bawa ke lapangan dan suami saya bangga, punya istri yang seperti ini. Dia juga mau bantu nuntunin anak-anak ke mana-mana saat masuk ke pedalaman, jadi maksudnya dia bangga." 

Dan kini, wanita bertubuh kurus dan tinggi ini boleh berbangga, karena seiring dengan berjalannya waktu, kini Sokola Rimba sudah tersebar di 16 daerah di Indonesia, beberapa daerah tersebut diantaranya adalah Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores, Jember, Halmahera, Asmat, dan yang terakhir adalah Sumba. 




(TIN)