Orang Tua, Waspadai 9 Pikiran Berbahaya Soal Anak

Anda Nurlaila    •    Senin, 04 Mar 2019 16:41 WIB
perkembangan anak
Orang Tua, Waspadai 9 Pikiran Berbahaya Soal Anak
Beberapa pikiran orang tua berbahaya bagi perkembangan anak-anak. Jika tidak berubah dapat menjadikan mereka bermusuhan dengan anak-anak mereka sendiri. (Foto: Pexels.com)

Beberapa pikiran orang tua berbahaya bagi perkembangan anak-anak. Salah satunya dengan malebeli anak, seperti mengatakan "bodoh", "pemalas", atau "payah". Selain itu pikiran orang tua yang berbahaya kepada anak yaitu membuat kesimpulan yang buruk pada anak. Pola pikir ini memperlihatkan orang tua terlalu membesar-besarkan bahwa anak akan selalu terlibat dalam tindakan dan peristiwa negatif di masa depan.


Jakarta:
Semua orang tua tentu mencintai anak-anaknya dan ingin buah hati tumbuh menjadi manusia terbaik. Tetapi sifat dan karakter anak yang berbeda-beda membuat orang tua cenderung berpikir bahwa sebagian anaknya berperilaku sangat baik, sementara yang lainnya sangat buruk.

Psikolog Jeffrey Bernstein dalam bukunya "Liking The Child You Love" menjabarkan perbedaan antara harapan orang tua dan keadaan anak-anak sering membuat orang tua mengalami Sindrom orang tua frustasi (Parent Frustration Syndrome/PFS).

Beberapa pikiran orang tua berbahaya bagi perkembangan anak-anak. Jika tidak berubah dapat menjadikan mereka bermusuhan dengan anak-anak mereka sendiri.

Terdapat sembilan pikiran negatif orang tua yang akan merugikan hubungan mereka dengan anak, seperti ditulis Psychology Today:

1. Perangkap pikiran

Hampir semua orang tua memiliki kecenderungan memikirkan bahwa anak-anak mereka memiliki perilaku yang selalu positif atau sebaliknya sepenuhnya negatif.

2. Melabeli anak

Orang tua kerap memberi julukan dan label negatif pada anak-anak mereka. Panggilan seperti 'bodoh', 'lambat', 'pemalas' seringkali digunakan orang tua jika anak memiliki sikap-sikap negatif. Pada gilirannya pelabelan cenderung menghilangkan motivasi anak dan menghambat mereka untuk membuat perubahan positif.

(Baca juga: Empat Kesalahan Mendisiplinkan Anak)

3. Menumbuhkan sarkasme

Orang tua kerap menggunakan bentuk sarkasme saat sengaja mengejek secara berlebihan tentang perilaku anak. Ucapan beracun lainnya antara lain mengatakan kebalikan dari perilaku negatif anak mereka melalui nada suara.

4. Kecurigaan berlebihan

Orang tua yang selalu berlebihan mencurigai anak-anak mereka akan kesulitan memercayai mereka. Ironisnya, anak yang merasa mereka tidak bisa dipercaya, akan semakin mengembangkan sifat tidak bisa dipercaya.

5. Penyangkalan yang merusak

Penyangkalan adalah pikiran toksik yang unik. Pikiran ini mencerminkan orang tua yang bergumul dengan penolakan bahwa anak-anak mereka tidak mungkin terlibat dalam perilaku bermasalah.

6. Emosional berlarut-larut

Sikap emosional berlebihan tatkala orang tua menyakinkan diri bahwa perilaku buruk anak tidak dapat ditangani.

7. Selalu menyalahkan

Secara tidak sadar orang tua akan membentuk anak seperti anggapannya dengan selalu menyalahkan anak. Hal ini didorong keyakinan bahwa anak akan selalu melakukan hal-hal yang salah.

8. Memaksa anak  

Bila merasa anaknya terus melakukan hal-hal buruk, orang tua seringkali memaksakan anak agar harus sesuai dengan keinginan mereka.  Hal tersebut akan menjadikan anak merasa jauh, terisolasi, disalahpahami dan marah.

9. Membuat kesimpulan buruk

Pola pikir ini memperlihatkan orang tua terlalu membesar-besarkan bahwa anak akan selalu terlibat dalam tindakan dan peristiwa negatif di masa depan.




(TIN)