Tema Khusus Rona

Sumadi, Penyandang Tunanetra yang Pantang Menyerah

Raka Lestari    •    Selasa, 30 Oct 2018 18:14 WIB
kisah inspiratif
Sumadi, Penyandang Tunanetra yang Pantang Menyerah
Dengan menjadi tukang pijat dan bergabung menjadi mitra Go-Massage, Sumadi membuktikan bahwa dirinya bisa menghidupi keluarganya tanpa harus meminta-minta. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Jakarta: Menjadi tunanetra banyak yang memandang sebelah mata. Mungkin saja meragukan kemampuan orang tersebut. Namun ibarat kata pepatah selalu ada asa asal kita mau berusaha.

Dan ini dibuktikan oleh Sumadi, salah satu penyandang tunanetra yang juga merupakan anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

Sumadi tak pernah kehilangan semangatnya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa penyandang disabilitas juga tidak berbeda dengan orang normal lainnya.

Awal mengalami gangguan penglihatan

Di sela-sela sebuah acara Sumadi bertutur tentang kisahnya. "Jadi pada umur 10 tahun itu awalnya saya sakit, yaitu sakit demam tinggi."

"Tetapi sebenarnya saya tidak tahu apakah sakit itu yang menyebabkan saya menjadi buta atau apa," kenang Sumadi yang pada saat itu berada di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Sejak sakit itu penglihatannya mulai menurun seiring berjalannya waktu.

"Pada saat itu penglihatan saya tidak langsung hilang, tetapi semakin menurun seiring bertambahnya usia," ucap Sumadi.

"Kalau sebelumnya saya bisa melihat dengan normal, sejak saat itu saya kalau hari sudah gelap jadi tidak bisa melihat dengan jelas."

Ia mengaku kebutaan yang dialaminya bukanlah kebutaan total. Dirinya masih bisa melihat cahaya-cahaya, seperti cahaya lampu.

"Masih bisa lihat sebenarnya kalau ada cahaya. Misalnya ada jendela yang terbuka itu saya tahu. Saya bisa melihat benda-benda di sekitar cahaya tersebut," tambahnya.

Meskipun mengalami gangguan penglihatan, pria asal Jepara ini tidak mau berputus asa dan tetap melanjutkan pendidikannya.

Salah satunya adalah dengan mengikuti berbagai pelajaran keterampilan yang terdapat di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) dari Dinas Sosial.

Setelah beberapa bulan mengikuti berbagai kelas keahlian, salah satunya adalah keahlian memijat ia lalu mencoba peruntungannya dengan merantau ke Jakarta.

"Pada tahun 1990 saya ke Jakarta, setelah menempuh pendidikan pelatihan memijat yang diadakan oleh PSBN. Sebenarnya di PSBN tidak hanya diajarkan memijat, tetapi juga diajarkan keahlian tangan lainnya seperti membuat keset, sapu, dan pijat," tutur Sumadi.

Selama tiga tahun, Sumadi mengabdikan diri untuk menjadi tukang pijat di PSBN hingga akhirnya ia menjadi tukang pijat di panti pijat modern dan mendapatkan penghasilan yang lebih besar dibandingkan ketka masih menjadi tukang pijat di PSBN.

(Baca juga: Gojek Terapkan Sistem bagi Hasil)


(Selama tiga tahun, Sumadi (kedua dari kiri) mengabdikan diri untuk menjadi tukang pijat di PSBN hingga akhirnya ia menjadi tukang pijat di panti pijat modern dan mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Duka yang dialami selama menjadi tukang pijat

Menjalani profesi sebagai tukang pijat bukannya tidak memiliki tantangan, terutama bagi Sumadi yang memiliki keterbatasan dalam penglihatannya.

Ia mengaku pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menjadi tukang pijat.

"Jadi saya itu pernah waktu itu ada orang datang ke rumah, mau menyuruh pijat untuk adiknya kemudian saya diantarlah untuk ke rumah adiknya itu."

"Di tengah jalan, orang tersebut beberapa kali menawarkan saya minuman tetapi saya tidak mau sampai akhirnya dia berhenti di warung mie ayam dan saya disuruh untuk menunggu kemudian dia pergi."

Sumadi bercerita bahwa dirinya disuruh untuk menunggu dan setelah beberapa saat, orang tersebut kembali menghampiri dirinya dan mengatakan bahwa ingin meminjam handphone Sumadi.

"Saya kasihlah handphone saya, tapi kok setelah dikembalikan ternyata bukan handphone saya yang dikembalikan? Saya pun protes."

Sumadi mengaku bahwa meskipun tidak bisa melihat, ia bisa mengetahui bahwa handphone yang diberikan bukanlah handphone miliknya karena ia hafal bentuk handphonenya tersebut.

Kemudian setelah kejadian tersebut, calon pelanggan Sumadi tersebut mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi tidak disangka, Sumadi mengira bahwa dirinya dibawa ke dalam halaman rumah ternyata ia diturunkan di pinggir jalan begitu saja oleh calon pelanggannya tersebut.

"Saat diajak ke lokasinya ternyata dia berhenti di pinggir jalan dan meninggalkan saya di bawah pohon. Saya kira itu halaman rumah pelanggan saya, ternyata itu di pinggir jalan," cerita Sumadi yang bisa tertawa walaupun dalam kisah yang sedih.

"Di situ saya merasa kebingungan karena saya cuma bawa helm dan tidak bawa tongkat juga, sehingga bingung mau pulang bagaimana?"

Akhirnya, untuk bisa kembali ke rumah dengan selamat Sumadi terpaksa memberhentikan bajaj yang lewat untuk meminta bantuan.

"Waktu itu akhirnya saya memberhentikan bajaj yang lewat, tetapi sedang ada penumpang. Kemudian saya meminta tukang bajaj tersebut untuk memanggilkan ojek yang bisa mengantarkan saya kembali ke rumah."

Pada saat itu Sumadi mengakui bahwa dirinya merasa bingung, apakah calon pelanggannya tersebut memang berniat jahat atau tidak kepadanya. Tetapi ia merasa bersyukur bahwa ia tidak mengalami kejadian apapun.

"Saya waktu itu merasa bingung, maksudnya dia tuh mau apa sama saya. Mungkin dia mengira saya tidak mengenali bentuk handphone saya sehingga dia menukarnya dengan handphone lain, padahal saya kan hafal dengan bentuk handphone saya."

"Tetapi untungnya tidak ada barang-barang saya yang hilang," ucapnya lega. Menurut Sumadi, kejadian tersebut berlangsung sekitar tahun 2006.

Bergabung menjadi salah satu mitra ojek online di Indonesia

Setelah berkecimpung menjadi ahli pijat sejak tahun 1990, akhirnya pada tahun 2015 Sumadi melihat ada lowongan menjadi mitra untuk layanan massage atau pijat yaitu layanan Go-Massage di salah satu platform ojek online di Indonesia, yaitu Go-Jek.

Pria yang aktif di media sosial ini tertarik ketika melihat lowongan menjadi mitra Go-Massage di Facebook.

"Kebetulan hiburan saya salah satunya adalah membuka media sosial, salah satunya adalah Facebook."

"Nah, kebetulan pada saat itu saya melihat Go-Massage baru buka dan membutuhkan orang yang bisa pijat. Kebetulan teman saya sudah daftar duluan, jadi saya nanya-nanya lah ke dia dan ikutan daftar juga. Kemudian alhamdulillah dapat panggilan tes dan beberapa lama kemudian saya diterima," tutur pria berusia 50 tahun ini.

Dengan menjadi mitra Go-Massage, bukan berarti Sumadi tidak memiliki kendala karena dirinya merupakan penyandang disabilitas.

"Dalam sehari biasanya saya mendapat orderan rata-rata tiga orang. Tetapi sering sekali saya dicancel karena saya adalah penyandang tunanetra."

"Bahkan saya pernah mendapat orderan 20 kali, dan semuanya dicancel," akunya sedih.

"Mungkin mereka cancel orderan karena mereka menganggap kami akan merepotkan atau mungkin belum pernah merasakan dipijat oleh tunanetra. Padahal meskipun kami ini tunanetra, biasanya kami akan lebih tekun mendalami suatu kemampuan lebih baik dari mereka yang normal."

Pernah suatu hari Sumadi mendapatkan orderan yang kemudian dicancel, setelah ditanya alasannya ternyata karena kasihan terhadap dirinya.

"Kalau bapak kasihan sama saya, jangan dicancel orderannya. Kasih saya kesempatan untuk bekerja, saya juga mau bekerja," ungkap Sumadi.

Menurut Sumadi, banyak orang yang mengidentikkan para penyandang disabilitas dengan pengemis atau tukang meminta-minta, padahal sebenarnya tidak semua penyandang disabilitas melakukan hal tersebut untuk mendapatkan uang.

Masih banyak para penyandang disabilitas yang mau bekerja meskipun memiliki kekurangan.

Meskipun begitu, Sumadi mengaku bahwa jika mendapat orderan yang berada jauh dari rumahnya memang tidak diambil karena kesulitan untuk mencapai lokasinya.

"Kalau untuk lokasi yang jauh, biasanya tidak saya ambil. Karena kan terkadang saya diantar sama istri atau anak saya untuk mencapai lokasi pelanggan, kalau dapat lokasi yang jauh dari rumah kasihan anak atau istri saya nanti pulangnya bagaimana," tutur pria bertubuh gemuk ini.


("Jangan berharap belas kasihan dari orang lain. Memberi itu lebih baik daripada menerima," ucap Sumadi, salah satu penyandang tunanetra yang bergabung di Go-Massage. Foto: Dok. Go Jek)

Pesan untuk sesama penyandang disabilitas

"Buat teman-teman yang juga penyandang disabilitas, jangan pernah berputus asa. Disabilitas bukan akhir segalanya, meskipun kita memiliki kekurangan kalau kita mau belajar dengan baik dan berusaha pasti bisa," ucap pria bersuara berat ini.

"Orang normal pun kalau tidak mau belajar pasti tidak bisa," tambah Sumadi.

Ia juga menghimbau kepada para penyandang disabilitas lainnya untuk tidak selalu mengharapkan belas kasihan dari orang lain. "Jangan berharap belas kasihan dari orang lain. Memberi itu lebih baik daripada menerima."

Dengan menjadi tukang pijat dan bergabung menjadi mitra Go-Massage, Sumadi membuktikan bahwa dirinya bisa menghidupi keluarganya tanpa harus meminta-minta.

Berkat kerja keras dan kegigihannya dalam bekerja, saat ini Sumadi sudah bisa membeli rumah KPR di daerah Cileungsi, Jawa Barat.

Hal ini menunjukkan bahwa stigma mengenai penyandang disabilitas yang hanya bisa meminta belas kasihan orang tidaklah benar.

Selama seseorang mau untuk berusaha, meskipun memiliki keterbatasan atau memiliki fisik yang tidak sempurna berbagai rintangan dalam hidup bisa dilewati dengan baik.




(TIN)