Ini Alasan Peselingkuh Tak Pernah Kapok

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 18 Aug 2017 16:46 WIB
romansa
Ini Alasan Peselingkuh Tak Pernah Kapok
Penelitian menemukan bahwa korban selingkuhan cenderung dua kali lipat akan diselingkuhi lagi pada hubungan selanjutnya. (Foto: Xavier Stomayor/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ungkapan 'sekali peselingkuh, akan terus jadi peselingkuh' ternyata dapat dibuktikan secara ilmiah. Sebuah studi menemukan bahwa orang yang berselingkuh pada hubungan pertama cenderung melakukan kesalahan yang sama saat menjalani hubungan-hubungan selanjutnya. 

Faktanya, memiliki hubungan khusus selain dengan pasangan pada hubungan romansa pertama membuat seseorang berkesempatan tiga kali lipat melakukan hal serupa dalam hubungan selanjutnya. 

Alasannya bukan karena mereka memiliki sifat buruk, namun karena berselingkuh membuat otak tidak peka terhadapa emosi negatif yang berhubungan dengan kebohongan. 



"Studi kami melihat adanya faktor kuat yang mencegah kita dari berselingkuh, yaitu reaksi emosional pada tindakan tersebut, perasaan buruk yang kita rasakan. Sementara proses adaptasi untuk mengurangi reaksi tersebut membuat seseorang terus berselingkuh," tukas asisten peneliti Neil Garret kepada Elite Daily. 

Ia menambahkan, tukang selingkuh pada awalnya tak enak dengan perbuatan tersebut. Namun karena dilakukan berulang kali, peselingkuh pun menyesuaikan diri dan pada akhirnya tak merasa bersalah sama sekali. 

(Baca juga: Curiga Pasangan Selingkuh? Ini Bukti Paling Umum)

Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan bahwa korban selingkuhan cenderung dua kali lipat akan diselingkuhi lagi pada hubungan selanjutnya. 

Mereka yang merasa bahwa pasangan mereka pernah berselingkuh juga cenderung empat kali lipat merasa pasangan di hubungan selanjutnya berselingkuh, terlepas dari asumsi tersebut benar atau tidak. 

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior tersebut meneliti 484 partisipan yang tengah menjalin hubungan romansa. Mereka melihat bagaimana selingkuh berefek pada kedua belah pihak, apa yang sebenarnya terjadi pada otak saat seseorang berbohong, dan mengapa seseorang berbohong dengan mudah. 



Meskipun berbohong mudah dilakukan untuk beberapa jenis orang, namun kebanyakan otak orang dilengkapi dengan mekanisme anti-bohong yang disebut hati nurani. Saat berbohong, seseorang akan merasa buruk dan hal tersebut akan mencegahnya untuk melakukan hal yang sama.

Namun, bagi sebagian orang, berbohong berulang kali mengurangi rasa bersalah yang mereka rasakan karena menyesatkan orang lain. Para peneliti melihat ini terjadi secara fisik pada subjek tes.

Misalnya, ketika peserta diminta untuk berbaring dalam skenario uji coba, maka amigdala yang merupakan area otak mereka terkait dengan emosi, akan menyala. Namun, setelah kebohongan berulang, respons aktivitas meningkat tersebut melemah.











(TIN)