Bukan Cuma Aki-Aki yang Serbu Pasar Batu Akik

Triyanisya    •    Senin, 24 Nov 2014 16:32 WIB
batu akik
Bukan Cuma Aki-Aki yang Serbu Pasar Batu Akik
Foto: MI

Metrotvnews.com, Jakarta: Pasar Rawa Bening atau Jakarta Gems Center semakin ramai akhir-akhir ini. Pamor batu mulia kini memang sedang naik daun. Citra batu akik sebagai 'hobi aki-aki', semakin tak relevan.

Batu cincin yang biasanya terpasang di jari orang tua kini juga tak jarang mulai melengkapi aksesoris anak muda. Mereka tak ketinggalan ikut  berburu batu-batuan yang tumpah ruah di Pasar Rawa Bening.

Tak hanya pria yang datang mencari batu akik atau batu mulia, kaum hawa juga berdatangan ke Rawa Bening untuk memburu kalung, gelang, bros dan anting yang terbuat dari batu-batu cantik di sana yang dijual mulai Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Pasar Rawa Bening sebenarnya sudah berdiri sejak 80-an dan terkenal sebagai bursa batu akik dan batu mulia di Jakarta. Pasar Rawa Bening tadinya tak serapih saat ini, namun setelah direnovasi pada 2010, pasar yang berhadapan dengan stasiun Jatinegara, Jakarta Timur ini tampak lebih tertata.

Pasar itu kini tak lagi sepi pengunjung. Salah satu penjaga toko Batavia yang terletak di lantai dasar Pasar Rawa Bening, Noval (23) mengatakan jumlah pengunjung meningkat drastis setahun terakhir.

Batu-batuan yang menjadi incaran para pemburu batu adalah batuan impor, seperti Ruby, Sapphire, Amethyst, Garnet dan Zamrud. Meskipun harganya selangit, batu-batuan itu tetap menjadi primadona di Pasar Rawabening.

"Empat batu yang paling banyak dicari itu ruby, blue sapphire atau yellow sapphire, dan zamrud. Bacan juga lagi banyak yang cari, tapi stoknya kurang terus saking cepat laris," ujar Noval kepada Metrotvnews.com beberapa waktu lalu.



Selain kelima batu tersebut, kios Batavia yang dijaga Noval juga memiliki stok citrine, amethyst (kecubung) Brazil, black diamond ruby gondola, kalimaya Afrika, zirkon dan berbagai jenis batu impor lainnya. Batuan lokal seperti bacan, garnet,  kalimaya, intan, juga bisa ditemukan di sana jika stoknya masih ada.

"Tapi di sini, zamrud paling mahal, karena kualitas batunya juga bagus banget. Satu karatnya bisa sampai satu juta, tergantung kualitasnya. Tapi ada juga yang murah. Kalau ruby, per karatnya dari Rp35 ribu hingga Rp 200 ribu. Dalam satu batu, biasanya ada tiga karat atau lebih," ujarnya lagi.

Salah satu pengunjung yang sedang sibuk memilih batu untuk rangka cincin miliknya, Surya (40), datang dari Pekanbaru bersama dua rekannya ke Pasar Rawa Bening. Ia sebenarnya datang untuk mencari batu bacan Doko dari Maluku, namun tidak ia temukan di toko Batavia.

Surya  mengatakan, hobinya mengoleksi cincin sudah turun temurun didapat dari keluarganya. Ia mengatakan, cincin seperti harta karun baginya. Istrinya bahkan mendukung hobinya tersebut, karena ia pun ikut membelikan sang istri perhiasan dari batu-batuan tersebut.

"Istri saya sih enggak cemburu (koleksi batu) karena kita sama-sama suka batu dan ikut ngoleksi. Kalau saya cuma cincin aja, kalau untuk istri bisa gelang, kalung, anting juga. Soal harga enggak masalah sih, kan memang hobi," ujar Surya.

Serbuan para pecinta batu itu tentunya memberikan udara segar bagi para pedagang yang kini bisa meraup keuntungan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Sekarang (keuntungannya) bisa sampai lebih dari Rp25 juta sore hari," ujarnya.

Jika para pedagang di Rawa Bening menentukan standar harga untuk setiap batu yang dijualnya, lain hal dengan ahli geologi sekaligus ahli batu mulia Indonesia, Sujatmiko yang akrab disapa Miko. Miko memiliki galeri Pusat Promosi Batumulia Indonesia di  Jalan Pajajaran Bandung.

Di sana, terdapat batu-batu mulia hasil temuannya yang sudah diolah menjadi berbagai macam bentuk, seperti kalung, cincin, gelang, anting, dan ikat pinggang. Ia bahkan bisa juga menerima pesanan untuk membuat suvenir atau plakat, tropi, bingkai foto, dan sebagainya. Miko justru tidak bisa menetapkan standar harga bagi semua batu mulia olahan sendiri yang dijualnya. Kecuali untuk beberapa aksesori yang bisa dijual mulai dari Rp15.000 ke atas.

"Kalau harga batu-batu non diamond itu enggak ada standar harga, sesuka saya saja (kasih harga). Tapi ada lebih kurangnya berapa, jangan terlalu mahal sampai miliaran juga. Tapi enggak apa-apa kalau ada orang yang kasih harga batu miliaran, kan ada tuh batu dijual Rp200 juta, Rp500 juta, enggak apa-apa. Saya bisa jual cuma Rp5 juta, mereka lebih mahal tapi itu bagus biar orang-orang bisa bergerak untuk lebih cinta dengan batu lokal."

"Kalau saya, misalnya mahasiswa bikin acara mengundang dirjen atau pemerintah, terus mau kasih suvenir pesan di sini, apa iya saya kasih harga mahal? kan enggak mungkin. Kalau perusahaan beli suvenir, baru bisa dinaikkin harganya. Kalau orang yang datang ke sini terlihat naik mobil mewah, saya kasih harga mahal mereka juga enggak akan menawar. Jadi kalau soal harga, hati nurani sendiri yang akan bicara," tandasnya.


(FIT)