Musa Ragu Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia 2020

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 14 Mar 2016 13:45 WIB
modest wear
Musa Ragu Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia 2020
(Foto: dok.MI / Muhammad Adimaja)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pesatnya industri busana muslim di Tanah Air melahirkan sebuah misi agar Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada 2020.

Namun, mungkinkah hal tersebut terjadi? Desainer kondang Musa Widyatmodjo memberikan pandangannya.

"Sebagai pelaku di bidang fesyen, saya sangat mengharapkan hal tersebut terjadi. Namun secara realistis, mungkin belum bisa tercapai pada tahun itu (2020)," ujar Musa, kepada Metrotvnews.com, saat dijumpai di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Minggu (13/3/2016).

Perancang busana senior sekaligus mantan ketua dan penasihat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) itu berpendapat, ada banyak hal yang perlu dibenahi untuk mewujudkan misi tersebut. Misal, edukasi, pendataan, serta struktur mode itu sendiri. 

Selain itu, Indonesia terkendala pendokumentasian sejarah perkembangan busana muslim.

"Bila Paris dijadikan acuan sebagai pusat mode, itu karena Paris punya sejarah yang jelas dalam hal fesyen. Sementara, bagaimana dengan pendokumentasian sejarah fesyen muslim di Indonesia," papar pria yang menjadi koordinator pekan mode Indonesia Fashion Week 2016 itu.

Masih berhubungan dengan pengarsipan berkas sejarah, Musa juga mempertanyakan keberadaan museum untuk mengabadikan sejarah fesyen. Sebagaimana diketahui, belum ada museum yang khusus menyimpan bagian-bagian sejarah yang berhubungan dengan fesyen, baik muslim maupun bukan.

Musa melanjutkan, industri busana muslim jumlahnya tidak sebanyak pengusaha atau pengrajin. Menurut dia, sebuah industri seharusnya memiliki sebuah sistem, struktur, manajemen, dan hal tersebut belum ada di Indonesia.

Lebih dalam, dia menjelaskan, perlu banyak eleman untuk menjadikan negara ini sebagai kiblat mode busana muslim. Bukan semata tentang pelaku dan produk, namun juga institusi yang terlibat di dalamnya, yang mana dibutuhkan pembagian tugas yang tepat. 

"Dalam memperkenalkan, publikasi, dan dokumentasi dibutuhkan peran media. Sementara untuk promosi, pemerintah memegang peranan penting. Salah satu institusi yang membawahi dunia fesyen adalah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Pemerintah perlu bekerja sama dengan pelaku fesyen itu sendiri agar industri kreatif mode bisa berkembang," urainya.

"Saya lihat tugas Bekraf itu terlalu banyak, jadi agak bingung juga mau memulai dari mana. Menurut saya, akan lebih baik bila di bawah Bekraf ada sebuah dewan yang terdiri dari berbagai macam keahlian, di mana ada pelaku di dalamnya," ujar Musa, memberi saran.



(DEV)