Perjalanan Jas Hujan dari Zaman Batu hingga Abad 20

Prita Daneswari    •    Rabu, 11 Feb 2015 12:33 WIB
fashion
Perjalanan Jas Hujan dari Zaman Batu hingga Abad 20
Sejarah terciptanya jas hujan. Foto: Ecoeterre.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Ada pemandangan menarik bila hujan turun kala kita sedang berkendara di jalan. Bila rintik hujan sudah terasa membasahi jalan, seketika para pengendara motor segera merapatkan kendaraannya ke pinggir jalan atau bawah jembatan.

Bukannya meneduh, kebanyakan dari mereka segera mengeluarkan 'senjata' untuk melawan hujan yakni jas hujan. Tak ayal, jas hujan berwarna-warni dengan beragam model itu menjadi pemandangan yang umum di musim hujan ini. Sebenarnya, sejak kapan dan di manakah jas hujan pertama kali dibuat?

Pada dasarnya, tentu manusia membutuhkan pelindung dari berbagai elemen yang ada di alam seperti hujan, angin, salju, bahkan debu. Kembali ke zaman batu, saat itu para Homo Sapiens dengan cepat belajar melindungi tubuh dengan mengenakan semacam lapisan kain yang terbuat dari bulu binatang. Kain itu kemudian diberi lapisan minyak yang bisa membuatnya antiair juga membuat tubuh lebih hangat.

Semenjak itu, seiring dengan waktu, manusia mulai belajar menciptakan pakaian antiair menggunakan baragam bahan. Suku Inca membuat ekstrak getah dari daun dan kulit kayu seperti tanaman karet lalu diolesi ke pakaian mereka. Adapun suku Inuit dan bangsa Viking merendam pakaian dalam minyak ikan untuk hasil yang sama. Masyarakat Saxon mengoleskan lemak hewan pada kain karung longgar tenunan mereka untuk meminimalkan penyerapan air.

Pada era Revolusi Industri, tercipta kain alami yang bersifat antiair atau waterproof menggunakan bahan kimia tambahan. Pada 1816, Charles Macintosh, seorang ahli kimia mengembangkan pelarut karet menggunakan naptha, produk dari penyulingan batu bara. Dia menggunakan lem itu untuk lapisan tenun, yang ditekan bersama kain wol menggunakan rol, proses tersebut pun dipatenkan pada 1823.

Hasilnya adalah kain yang benar-benar tahan air, meskipun kaku dan beraroma karet. Namun sayangnya bahan tersebut selalu bolong ketika hendak dijahit untuk dijadikan pakaian.

Macintosh kemudian menggandeng Thomas Hancock mengembangkan proses vulkanisasi yakni memanaskan lateks dan menggabungkannya dengan sulfur dan akselerator. Dengan cara itu, karet menjadi lebih kuat dan lebih elastis sehingga tercipta kain yang terasa lembut tapi tidak lengket atau kaku dalam kondisi cuaca ekstrem. Plus, bisa dijahit untuk dijadikan mantel tahan air.

Kemudian, pada pertengahan abad ke-19, berkembangnya industri maritim dunia memiliki pengaruh besar pada kain yang digunakan dalam jas hujan. Layar kapal yang dilapisi dalam minyak biji rami terbukti membuatnya lebih ringan dan lebih kuat. Bahan itu pun lalu dijadikan busana wajib para pelaut hingga abad ke-20.

Perang pun membuat perkembangan jas hujan menjadi lebih inovatif. Pada 1879, Thomas Burberry mematenkan gabardine yakni bahan yang tahan air dan udara serta tidak mampu dirobek. Bangsa Mesir pun lalu menciptakan benang antiair pertama yang kemudian ditenun menjadi pakaian.

Pada 1930-an, inovasi pada kain antiair pun semakin inovatif. John Barbour & Sons mulai menggunakan lilin parafin untuk kain katun. Hasilnya adalah kain tahan air, bisa bernapas, dan jauh lebih lembut. Bahan tersebut dengan cepat diaplikasikan pada busana pengendara motor, atlet, dan petani.

Perkembangan sektor teknik dan kimia di akhir abad ke-20 dua puluh telah menghasilkan sejumlah besar kain dan pelapis untuk berbagai keperluan dengan benang mikro yang bersahabat dengan udara tapi tetap tahan terhadap air. Hingga akhirnya kini, kain itu bisa dimodifikasi sebagai jas hujan yang mampu melindungi tubuh si pemakai dari terpaan angin, air, dan debu di jalanan. (Berbagai sumber)


(PRI)